Kuala Lumpur, Mureks – Gelar tunggal putra di ajang Malaysia Open pernah menjadi kebanggaan mutlak bagi tuan rumah. Ada masa ketika trofi tersebut seolah ditakdirkan untuk tetap berada di tangan atlet-atlet lokal, memicu euforia di setiap pertandingan. Namun, sejak kemenangan terakhir legenda Datuk Seri Lee Chong Wei pada 2018, dominasi itu meredup.
Sejarah Kejayaan Tunggal Putra Malaysia
Bagi Datuk Foo Kok Keong, mantan bintang nasional bulu tangkis Malaysia, kenangan kejayaan itu masih sangat jelas. Ia sendiri pernah menjadi runner-up pada edisi 1990 dan 1991, di mana kedua final tersebut mempertemukan dua wakil Malaysia, dengan Datuk Rashid Sidek sebagai pemenangnya.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Kedalaman pemain tunggal putra Malaysia saat itu memang tak perlu diragukan. Sejak era Terbuka turnamen dimulai pada 1983, Malaysia telah melahirkan sejumlah juara:
- Misbun Sidek (1985)
- Rashid Sidek (1990–1992)
- Ong Ewe Hock (1996, 2001)
- James Chua (2002)
- Datuk Seri Lee Chong Wei (12 gelar antara 2004 dan 2018)
Khusus Lee Chong Wei, ia berhasil memecahkan rekor dengan 12 gelar, menjadikan turnamen ini benteng pribadinya selama bertahun-tahun.
Tantangan dan Harapan di Malaysia Open 2026
Namun, lanskap persaingan telah berubah drastis. Sejak kemenangan terakhir Chong Wei pada 2018, Malaysia tidak hanya gagal memenangkan gelar tunggal putra, tetapi juga belum ada pemain tuan rumah yang berhasil mencapai babak perempat final. Ini menjadi catatan buruk menjelang Malaysia Open yang akan membuka musim depan di Axiata Arena, Bukit Jalil.
Kok Keong, yang juga anggota skuad pemenang Piala Thomas 1992, mengakui kontras tersebut sulit diabaikan. “Saya harap para pemain kami bisa tampil baik. Ganda putra dan putri kami masih tampil cukup baik. Terutama nomor tunggal yang perlu mengejar ketertinggalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami memiliki dua pemain tunggal putra yang bermain di sini, dan karena ini adalah kandang kami, saya sangat berharap mereka memberikan yang terbaik dan tidak pernah menyerah.”
Dengan kembalinya peraih medali perunggu Olimpiade Paris, Lee Zii Jia, setelah absen lama, serta Leong Jun Hao yang masih mencari konsistensi pasca-tahun 2025 yang penuh tantangan, ekspektasi memang wajar jika menjadi lebih terkendali. Namun, menurut Mureks, Kok Keong tetap percaya bahwa atmosfer Malaysia Open seharusnya memicu semangat yang lebih dalam.
“Bermain di kandang sendiri memang membantu, tetapi kepercayaan diri datang dari diri sendiri,” tegas Kok Keong. Ia melanjutkan, “Pelatih dapat membimbing Anda, tetapi disiplin dan usaha harus datang dari pemain.”
Pria berusia 61 tahun itu juga mencatat bahwa bulu tangkis modern jauh lebih kompetitif, dengan lebih banyak negara yang mampu menghasilkan pemain tunggal kelas dunia. “Banyak negara memiliki pemain-pemain muda berbakat. Anda harus menganalisis lawan, tetap tangguh, dan jangan pernah menyerah,” katanya.
Kok Keong berharap ekosistem yang lebih luas—mulai dari manajemen BA Malaysia hingga pelatihan dan komitmen individu—akan selaras untuk mengembalikan kekuatan tradisional tunggal putra di negara ini. “Untuk nomor tunggal, saya hanya berharap melihat para pemain bangkit kembali,” tambahnya. “Membangun pemain tunggal yang bagus bukanlah hal mudah. ​​Secara fisik dan mental, semuanya harus kuat.”
Wacana Perubahan Sistem Skor BWF
Seiring dengan terus berkembangnya olahraga ini, Kok Keong juga mengamati dengan saksama persiapan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) untuk meninjau kembali proposal pengenalan kembali format penilaian 15 poin (tanpa over servis) pada Rapat Umum Tahunan mereka di bulan Mei.
Ia percaya bahwa perubahan seperti itu—jika disetujui—dapat membentuk cara generasi berikutnya belajar untuk bersaing. “Lima belas poin, tanpa satu pun servis yang berhasil, mungkin terdengar lebih singkat, tetapi secara mental lebih sulit,” jelasnya. “Setiap reli itu penting. Ruang untuk kesalahan semakin sempit, jadi konsentrasi dan disiplin harus lebih tinggi.”






