Lego, perusahaan mainan ikonik, meluncurkan inovasi terbesarnya sejak desain bata modern diperkenalkan pada tahun 1958. Dalam gelaran Consumer Electronics Show (CES) 2026, Lego memperkenalkan sistem Smart Play dan Smart Brick, sebuah pengembangan yang dirancang untuk berintegrasi secara mulus dengan sistem permainan Lego yang sudah ada.
Alih-alih memperkenalkan layar baru atau ekosistem tertutup, Smart Play tetap berfokus pada pembangunan langsung dan permainan fisik, yang merupakan inti dari pengalaman Lego selama ini. Julia Goldin, Chief Product & Marketing Officer Lego, mengungkapkan bahwa proyek ini telah digarap selama delapan tahun.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Filosofi di Balik Smart Brick: Menambah Dimensi Baru
“Well, you know, the truth of it is, you know, we started this project eight years ago,” jelas Goldin. “So why now is because we are ready. We are ready to go. That’s why now. It’s not because we’re trying to solve some kind of a problem. It’s more because we’re ready with really great innovation.”
Menurut Goldin, landasan pengembangan yang panjang ini esensial, tidak hanya untuk meminimalkan teknologi—termasuk chip kustom yang cukup kecil untuk muat di dalam bata Lego—tetapi juga untuk memastikan Smart Play dapat berfungsi sebagai platform sejati. “Everything we have done still is part of the system,” tegas Goldin, menekankan bahwa Smart Play bersifat aditif dan terintegrasi secara kohesif. “This just adds a new dimension.”
Pendekatan ini berbeda dari set Lego Super Mario sebelumnya, yang meskipun bekerja dengan bata Lego, namun sangat bergantung pada figur Mario kustom dengan layar dan pemindai, serta sebagian besar beroperasi dalam ekosistemnya sendiri. “We actually learned a lot from the Mario launch,” kata Goldin. “We wanted no screens, we wanted no power buttons, we wanted something very seamless… something that anyone could take and fit with any other set and that could actually travel across our whole system as it exists today, but also into the future.”
Lego: Bukan Sekadar Perusahaan Mainan
Melihat jumlah teknologi yang disematkan dalam Smart Brick, muncul pertanyaan tentang bagaimana Lego memandang dirinya saat ini. Goldin memberikan pandangan yang mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam identitas perusahaan. “I don’t think we can call ourselves a toy anymore because we’re an iconic experience company,” ujarnya.
Mureks merangkum, perspektif ini menjelaskan mengapa Smart Play menghindari banyak jebakan yang sering dikaitkan dengan mainan terhubung. Tidak ada layar yang terpasang di bata, tidak ada aplikasi yang diperlukan, dan tidak ada ekosistem baru yang sepenuhnya terpisah untuk dibeli. Sebaliknya, kecerdasan berada di dalam bata itu sendiri, dirancang untuk meningkatkan permainan fisik daripada bersaing dengannya.
Pengalaman Interaktif dengan Teknologi Canggih
Dalam demo langsung, terlihat bagaimana Smart Brick bekerja. Sebuah set Lego klasik, seperti X-Wing Luke Skywalker atau TIE Fighter Darth Vader, menjadi hidup setelah Smart Brick ditempatkan di dalamnya dan digoyangkan untuk mengaktifkannya. Karakter seperti Luke atau Vader dapat memicu suara berbeda saat mereka mendekati kapal, mengunci posisi, atau bahkan melakukan manuver penerbangan yang menyenangkan.
Tom Donaldson, Kepala Lego’s Creative Play Lab, menekankan filosofi serupa. “If you have a screen, they tend to suck you in,” kata Donaldson. “And we were very deliberate about saying, no, we love the Lego brick, we love building with Lego bricks, and if we want to magnify that, then certain choices… probably have been advantageous to us.”
Teknologi khusus, termasuk ASIC (Application-Specific Integrated Circuit), memungkinkan Smart Brick untuk secara diam-diam memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Ini dapat mendeteksi Smart Minifigure dan Smart Tag di dekatnya, mengenali posisi relatifnya dalam ruang, termasuk ketinggian dan jarak, serta memicu respons yang sesuai, baik itu kilatan cahaya, efek suara, atau reaksi karakter.
“There are some of the technologies in here that we couldn’t have done at all without an ASIC. In particular, the sensing technology,” tambah Donaldson. Ia juga menegaskan, “The overall capabilities we could not have put together in any meaningful way – size, cost, or even integrated performance – without going to silicon.”
Masa Depan dan Ketersediaan
Goldin melihat platform ini sebagai sesuatu yang jauh lebih luas di masa depan. “I think we’re just scratching the surface,” katanya.
Untuk saat ini, Lego fokus membangun fondasi yang kuat untuk Smart Play, dimulai dengan salah satu tema paling ikonik dalam jajaran mereka, Star Wars. Lego telah membuka preorder untuk tiga set Smart Play Star Wars pertama:
- Vader’s Tie Fighter: Dibanderol $69.99 / £59.99 / AU$99.99, terdiri dari 473 buah, termasuk Smart Brick dan Charger, Smart Minifigure, serta Smart Tag.
- Luke’s X-Wing: Tersedia seharga $99.99 / £79.99 / AU$149.99.
- Throne Room Duel & A-Wing: Dengan harga $159.99 / £139.99 / AU$249.99.
Pendekatan Lego ini—menyembunyikan kompleksitas di dalam bata yang familiar—adalah inti dari cara perusahaan memikirkan Smart Play. Alih-alih meminta pembangun untuk mempelajari sesuatu yang baru, Lego bertaruh pada teknologi yang hanya menambah pengalaman Lego klasik, menjaga kesederhanaan, kreativitas, dan penggunaan kembali yang telah mendefinisikan bata Lego selama beberapa dekade.






