Tren

Kemenperin Genjot Pengembangan Industri Bambu Nasional, Siapkan SDM Bersertifikat Kompetensi

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menggenjot pengembangan ekosistem industri bambu nasional secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah strategis ini diharapkan mampu mendorong nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing industri, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan ekonomi hijau dan sirkular.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada Sabtu (3/1) di Jakarta menyatakan, Indonesia memiliki potensi bambu yang sangat besar. “Sebagai salah satu negara dengan kekayaan bambu terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 125 jenis bambu yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Potensi tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan sumber bahan baku bambu terbesar secara global,” ujar Agus.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Meski demikian, pemanfaatan bambu di dalam negeri masih didominasi metode konvensional, yang berakibat pada rendahnya nilai tambah. Oleh karena itu, Kemenperin berfokus pada penguatan industri hilir bambu, terutama untuk bahan baku konstruksi, furnitur, dan produk bernilai tambah lainnya seperti pangan fungsional.

Agus menambahkan, bambu menawarkan alternatif substitusi kayu yang menjanjikan. “Bambu memiliki potensi besar sebagai alternatif bahan baku substitusi kayu karena bersifat mekanis yang kuat, lentur, dan mudah dibentuk. Bahkan, bambu sangat direkomendasikan untuk wilayah rawan gempa karena lebih tahan terhadap guncangan dibanding material konvensional,” jelasnya.

Pengembangan bambu telah menjadi program lintas kementerian sejak 2022 melalui Peraturan Presiden tentang Strategi Nasional Bambu Terintegrasi Hulu–Hilir. Menindaklanjuti kebijakan ini, Kemenperin kini tengah menyusun peta jalan Pengembangan Ekosistem Industri Bambu Hulu–Hilir Terintegrasi. Peta jalan tersebut mencakup penguatan agroforestri, teknologi pascapanen, pembentukan sentra-sentra bambu, pendirian Akademi Komunitas Bambu (AKB), hingga pembangunan pusat logistik bambu untuk menjamin pasokan bahan baku yang berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan, industri bambu nasional memiliki peluang besar di sektor kerajinan, furnitur, konstruksi, hingga bioindustri, seiring dengan meningkatnya permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah. “Saat ini, permintaan ekspor lantai kontainer berbahan bambu mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi nasional baru sekitar 30 meter kubik per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan peluang ekspansi industri bambu yang sangat besar,” tegas Putu.

Di pasar domestik, permintaan juga meningkat pesat, terutama untuk pembangunan kawasan pariwisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Bangunan berbasis bambu bahkan memiliki nilai ekonomi tinggi, dengan harga mencapai Rp12 juta per meter persegi. “Menariknya, investasi konstruksi bambu dinilai lebih efisien. Break Even Point (BEP) bangunan bambu hanya sekitar 3 tahun, jauh lebih cepat dibanding konstruksi beton yang membutuhkan 6–7 tahun,” ungkap Putu.

Untuk mengatasi tantangan keterbatasan SDM dan bahan baku berkualitas, Kemenperin menginisiasi Akademi Komunitas Bambu (AKB) sebagai program pelatihan berbasis kompetensi. Program ini berfokus pada pengolahan bambu dari sisi hulu hingga pascapanen, sehingga bambu siap digunakan industri. Mureks mencatat bahwa inisiasi AKB telah dilaksanakan pada tahun 2025 di Bali dengan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori, serta akan diarahkan untuk menghasilkan SDM bambu bersertifikat kompetensi. Silabus AKB juga akan dijadikan dasar penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bambu.

Kemenperin juga menilai ekosistem yang telah terbentuk di Bangli, Bali, berpotensi untuk dijadikan sebagai pusat logistik bambu, didukung oleh ketersediaan bahan baku, mesin pengolahan, serta sentra IKM dan industri bambu. Pengembangan serupa juga telah dipetakan di Yogyakarta, yang memiliki ekosistem kolaborasi riset, komunitas, dan industri bambu.

Melalui penguatan SDM, standardisasi, dan ekosistem industri yang terintegrasi, Kemenperin optimistis industri bambu nasional dapat tumbuh berdaya saing global, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.

Mureks