Petarung asal Myanmar, Joshua Van Bawi Thawng, berhasil mengukir sejarah sebagai juara kelas terbang UFC pertama dari Asia Tenggara. Gelar prestisius itu diraihnya usai menumbangkan Alexandre Pantoja dalam ajang UFC 323 pada awal Desember 2025, melalui kemenangan TKO hanya dalam 26 detik.
Kemenangan Joshua Van Bawi: Antara Takdir dan Perdebatan
Kemenangan cepat Joshua atas Pantoja sempat memicu perdebatan di kalangan penggemar combat sport. Beberapa pihak menilai jatuhnya Pantoja yang berujung cedera dislokasi adalah sebuah kecelakaan, sehingga kemenangan Joshua dianggap sebagai keberuntungan semata.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Namun, Joshua, petarung berusia 24 tahun, menepis anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada keberuntungan di dalam oktagon, terutama saat menghadapi pemegang sabuk hitam seperti Pantoja. “Dia itu pemegang sabuk hitam. Pada akhirnya, dia seharusnya tahu cara jatuh. Saya yang membuat momen itu terjadi. Tuhan adalah perencana yang sempurna, sabuk ini diberikan kepada saya karena suatu alasan,” tegas Joshua dalam wawancara eksklusif dengan sejumlah media Indonesia, termasuk IDN Times.
Siap Hadapi Rematch Kontra Pantoja: “Hasilnya Akan Sama”
Joshua Van Bawi menyatakan kesiapannya untuk membuktikan kualitas dan tidak akan menolak jika UFC mempertemukannya kembali dengan Alexandre Pantoja. Dengan penuh keyakinan, ia percaya hasil pertarungan ulang tidak akan berbeda.
“Jika orang-orang ingin melihat tanding ulang, kita bisa melakukannya. Saya rasa hasilnya akan sama, saya tetap akan menang,” tantang Joshua.
Filosofi “The Fearless”: Haram Hukumnya Main Aman
Berbeda dengan kebanyakan juara yang cenderung bermain aman atau memilih lawan untuk mempertahankan gelar, Joshua memiliki filosofi bertarung yang berani. Ia berjanji akan tetap menjadi “The Fearless”, julukannya, dan selalu mengambil risiko tinggi layaknya seorang penantang.
“Saya tinggal di gym, saya selalu berlatih. Jadi kenapa tidak bertarung? Saya ingin tetap aktif selagi muda. Biarkan mereka mencoba mengambil sabuk ini dari saya. Saya bertarung dengan cara yang sama di setiap pertarungan. Saya akan bertarung layaknya seorang penantang. Jadi, mari kita lakukan. Biarkan mereka mencoba mengambil sabuk ini dari saya!” seru Joshua.
Menepis Mitos: Lokasi Latihan Bukan Penentu Utama Kesuksesan
Dalam dunia combat sport, seringkali muncul stigma bahwa petarung Asia harus berguru di Amerika Serikat atau Rusia untuk bisa meraih sukses di oktagon. Namun, Joshua Van Bawi tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Menurut pantauan Mureks, ia percaya bahwa lokasi latihan hanyalah geografi semata.
Joshua menekankan bahwa etos latihan yang keras dan lingkungan yang mendukung adalah faktor utama kesuksesan. Ia mencontohkan legenda tinju Manny Pacquiao dan tim MMA Team Lakay dari Filipina yang sukses mendunia meski berlatih di tanah kelahirannya sendiri. “Tidak masalah di mana Anda berlatih. Jika Anda berlatih sekeras mungkin dan dikelilingi orang yang tepat, Anda akan berhasil. Banyak juga petarung di AS yang gagal masuk UFC. Kuncinya ada di diri sendiri,” ucap Joshua.
Perjalanan Tak Terduga Joshua Van Bawi ke Dunia UFC
Menariknya, Joshua sendiri sukses merantau ke Amerika Serikat. Namun, ia tidak pergi ke sana semata-mata demi menjadi petarung. Ia baru mengenal UFC saat berusia belasan tahun, setelah berada di Negeri Paman Sam.
“Saya tidak tahu apa itu MMA sampai usia 16 atau 17 tahun. Jika saya tetap di Myanmar, hidup saya akan benar-benar berbeda. Saya tidak akan pernah tahu apa itu UFC,” kenang Joshua, menggambarkan betapa tak terduganya jalan hidup yang membawanya menjadi juara.






