Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) secara resmi merombak sistem keberadaan atlet di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Cipayung. Perubahan fundamental ini menghapus mekanisme promosi dan degradasi pemain yang sebelumnya rutin dilakukan setiap akhir tahun, diganti dengan evaluasi berbasis kinerja yang bisa berujung pada degradasi kapan saja.
Keputusan ini diumumkan PBSI melalui rilis resmi pada Selasa (6/1), setelah melalui evaluasi komprehensif terhadap struktur Pelatnas, performa atlet, padatnya beban kompetisi, serta efektivitas program jangka panjang. Menurut Mureks, langkah ini diambil untuk memperkuat stabilitas pembinaan dan menjaga kesinambungan program latihan, terutama dalam menghadapi agenda kompetisi internasional yang semakin padat sejak awal Januari.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Evaluasi Berbasis KPI, Degradasi Fleksibel
Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, Eng Hian, menegaskan bahwa peniadaan promosi dan degradasi di akhir tahun bukan berarti standar kualitas atlet akan menurun. Sebaliknya, sistem baru ini justru akan lebih ketat dan personal.
“Evaluasi seorang atlet ditentukan oleh KPI (Key Performance Indicator) yang sudah ditentukan oleh pelatihnya masing-masing. Jika seorang atlet tidak mencapai KPI yang telah ditetapkan maka akan terkena degradasi. Oleh karena itu jangka waktu degradasi setiap atlet akan berbeda tergantung dari KPI mereka masing-masing,” ujar Eng Hian, seperti dikutip dari rilis PBSI.
Implikasinya, setiap pemain kini memiliki target dan jangka waktu evaluasi yang berbeda. Hal ini memungkinkan seorang atlet untuk terlempar dari Pelatnas Cipayung kapan saja, tanpa harus menunggu periode akhir tahun seperti sebelumnya.
Mekanisme Promosi Melalui Seleknas Tahunan
Berbeda dengan degradasi yang kini bersifat fleksibel, sistem promosi atlet ke Pelatnas akan tetap dilakukan melalui mekanisme seleksi nasional (Seleknas) yang dijadwalkan setiap awal tahun.
“Sementara itu untuk sistem promosi akan dilakukan lewat mekanisme Seleknas PBSI yang akan dilaksanakan setiap awal tahun dan untuk jumlah pengambilan pemain harus sesuai dengan kriteria yang dibuat oleh bidang pembinaan prestasi PP PBSI dan untuk jumlah akan disesuaikan dengan kebutuhan atlet di Pelatnas,” jelas Eng Hian.
PBSI berharap, dengan sistem baru ini, proses pembinaan atlet dan rekrutmen pelatih dapat berjalan lebih transparan, objektif, dan profesional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan konsistensi prestasi bulutangkis Indonesia di kancah Asia dan dunia, dengan target besar pada Kejuaraan Dunia, Piala Thomas dan Uber, serta Olimpiade 2028.
Referensi penulisan: www.cnnindonesia.com





