Teknologi

Iran Matikan Internet Nasional di Tengah Gelombang Protes Memanas, 42 Orang Tewas Dilaporkan

Gelombang aksi unjuk rasa melanda berbagai kota di Iran, memicu respons keras dari pemerintah yang memutus akses internet secara nasional. Langkah ini diambil untuk meredam kerusuhan yang telah berlangsung selama 12 hari dan dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 42 orang, termasuk enam anak-anak, menurut Organisasi Hak Asasi Manusia Hengaw.

Protes yang awalnya dipicu oleh melonjaknya inflasi dan anjloknya nilai mata uang Iran terhadap dolar AS, kini telah berkembang menjadi gerakan yang lebih politis. Para demonstran di Teheran, Mashhad, Isfahan, dan kota-kota kecil seperti Kermanshah, meneriakkan slogan-slogan menentang Ayatollah Ali Khamenei, otoritas tertinggi di negara tersebut.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Pemadaman Internet dan Respons Pemerintah

Pemutusan akses internet secara total di seluruh negeri terjadi pada Kamis sore waktu setempat, seperti yang dinyatakan oleh NetBlocks, kelompok pemantau internet. Catatan Mureks menunjukkan, taktik ini sering digunakan oleh pejabat Iran dalam protes-protes sebelumnya untuk mencegah penyebaran kerusuhan dan bocornya video kekerasan ke dunia luar.

“Iran kini berada di tengah pemadaman internet nasional,” kata NetBlocks yang dikutip dari NBC.

Pihak berwenang Iran tampak kewalahan menghadapi gelombang protes ini, dengan para pejabat tinggi memberikan pesan yang bertentangan mengenai cara penanganan kerusuhan. Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan perdamaian dan menekankan pentingnya mendengarkan kekhawatiran pengunjuk rasa. Namun, kelompok garis keras mengeluarkan peringatan keras.

Kepala kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan tidak ada ampun bagi mereka yang membantu musuh melawan Republik Islam.

Ancaman Internasional dan Bukti Kekerasan

Situasi semakin rumit dengan adanya ancaman intervensi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Minggu lalu, Trump telah memperingatkan akan mengambil tindakan jika lebih banyak pengunjuk rasa terbunuh, dan mengulangi ancaman tersebut dalam wawancara di “The Hugh Hewitt Show”.

“Saya sudah memberi tahu bahwa jika mereka mulai membunuh orang, yang cenderung mereka lakukan selama kerusuhan mereka, mereka sering mengalami kerusuhan, jika mereka melakukannya, kami akan menghajar mereka dengan sangat keras,” tegas Trump.

Trump juga menyampaikan pesan kepada para pengunjuk rasa, mendorong mereka untuk memiliki tekad kuat demi kebebasan. “Kalian adalah orang-orang pemberani. Sayang sekali apa yang terjadi pada negara kalian. Negara kalian dulunya adalah negara yang hebat,” ujarnya.

Peringatan Trump ini menambah tekanan bagi otoritas Iran, yang juga merasa terancam oleh penangkapan mengejutkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, sekutu dekat Teheran. Kerusuhan di jalanan terus berlanjut, dengan video yang beredar daring menunjukkan kerumunan besar pengunjuk rasa di kota-kota besar.

Sebuah video yang diverifikasi oleh NBC News memperlihatkan sebuah sedan putih menabrak sekelompok pasukan keamanan di Mashhad. Sementara itu, video yang diunggah oleh BBC Persian menunjukkan pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di kota Dezful, Iran barat. Video lain juga memperlihatkan kebakaran besar di kantor lembaga penyiaran negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting, di Isfahan. Hingga Jumat, 09 Januari 2026, tidak ada pihak yang menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari posisi masing-masing.

Mureks