Insiden tragis yang menewaskan Renee Nicole Good (37) oleh agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) Jonathon Ross pada Rabu, 7 Januari 2026, di Minneapolis kembali memicu sorotan tajam terhadap kebijakan Apple. Perusahaan teknologi raksasa itu sebelumnya telah menghapus aplikasi seperti ICEBlock dari App Store, yang berfungsi mengumpulkan lokasi aktivitas ICE secara crowdsourcing. Keputusan Apple pada Oktober lalu, yang diambil di bawah tekanan pemerintahan Trump, beralasan aplikasi tersebut “dapat digunakan untuk membahayakan petugas penegak hukum.”
Namun, kematian Good, seorang warga negara Amerika kulit putih yang menurut istrinya adalah ibu yang baik hati, penuh kasih, dan seorang Kristen, justru memperlihatkan bahwa bahaya sesungguhnya datang dari petugas ICE itu sendiri. Rekaman insiden yang digambarkan “grafis dan mengganggu” telah beredar luas, membantah narasi propaganda pemerintah Trump mengenai peristiwa tersebut.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Ancaman Nyata dari Operasi ICE
Kematian Renee Nicole Good bukanlah insiden terisolasi. Catatan Mureks menunjukkan, ICE telah menjadi kekuatan berbahaya jauh sebelum peristiwa pekan ini. Sejak September, agen ICE telah terlibat dalam sembilan insiden penembakan. Sepanjang tahun 2025 saja, 32 orang meninggal dunia dalam tahanan ICE. Ironisnya, sekitar sepertiga dari mereka yang ditangkap oleh agen ICE — yang seringkali bertopeng dan menolak mengidentifikasi diri — bahkan tidak memiliki catatan kriminal.
Peristiwa yang menimpa Good menjadi titik balik karena korbannya bukan lagi individu dari kelompok marginal. Wakil Presiden JD Vance, tanpa dasar, menuding Good sebagai bagian dari “jaringan sayap kiri.” Ia juga mengklaim ICE memiliki “kekebalan absolut” dalam tindakan seperti menewaskan warga Amerika di siang bolong. Sementara itu, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt menggambarkan insiden mematikan itu sebagai “hasil dari gerakan sayap kiri yang lebih besar dan jahat yang telah menyebar di seluruh negara kami.” Lebih lanjut, Biro Investigasi Federal (FBI) bahkan menghalangi biro investigasi kriminal Minnesota untuk mengakses bukti guna melakukan pemeriksaan menyeluruh atas kasus pembunuhan ini.
Kontradiksi Citra Progresif Apple
Apple selama ini dikenal sebagai perusahaan yang memproyeksikan citra progresif dan peduli sosial di antara raksasa teknologi lainnya. Acara peluncuran produknya seringkali diwarnai testimoni mengharukan tentang fitur iPhone dan Apple Watch yang menyelamatkan nyawa. Perusahaan ini juga merilis aksesori bertema Pride untuk merayakan komunitas LGBTQ+ dan sejauh ini menolak tekanan pemerintah untuk menghapus program DEI (Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi) mereka.
Era modern Apple bahkan dimulai dengan iklan TV “Here’s to the crazy ones” yang menampilkan gambar Dr. Martin Luther King Jr., John Lennon, dan Gandhi, secara eksplisit mengaitkan citra perusahaan dengan pembangkangan sipil dan keadilan sosial. Namun, di balik citra tersebut, Apple juga kerap memanfaatkan progresivitasnya untuk kepentingan bisnis. Misalnya, ketika regulasi pemerintah mendorong keterbukaan atau interoperabilitas, Apple memperingatkan risiko keamanan dan privasi bagi penggunanya. Ketika Apple mengontrol ketat tempat pengguna dapat membeli aplikasi, hal itu diklaim untuk menjauhkan konten dewasa dari anak-anak.
Dalam kasus ICEBlock, Apple telah memutuskan bahwa keamanan teoritis petugas ICE lebih berharga daripada ancaman nyata yang mereka timbulkan terhadap komunitas yang mereka intimidasi. Ketersediaan ICEBlock di App Store mungkin tidak akan mengubah hasil peristiwa tragis pada Rabu lalu. Namun, aplikasi ini dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai informan komunitas, mempermudah pemberitahuan kepada publik tentang lokasi para preman bertopeng ini berkumpul, dan mungkin membantu orang lain menghindari nasib serupa dengan Renee Nicole Good.
Engadget telah menghubungi Apple untuk meminta komentar mengenai pengembalian ICEBlock; kami akan memperbarui informasi jika menerima tanggapan.






