Nasional

Inflasi Stabil, BI-Rate Terjaga: Lima Sektor Ekonomi Ini Diprediksi Jadi Mesin Cuan 2026

Tahun 2025 menjadi periode krusial yang akan membentuk lanskap investasi di masa mendatang. Dengan proyeksi inflasi yang stabil di kisaran 2,5 ±1 persen serta kebijakan BI-Rate yang dipertahankan pada level 4,75 persen untuk mendorong pertumbuhan kredit ke sektor riil, fondasi ekonomi nasional dinilai cukup solid.

Kondisi makroekonomi yang kondusif ini membuka peluang bagi investor dan pelaku usaha untuk mempersiapkan diri lebih awal. Tujuannya bukan sekadar mengikuti tren, melainkan membangun posisi yang strategis agar potensi keuntungan pada tahun 2026 dapat tercapai secara optimal.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Berdasarkan outlook ekonomi 2025 yang dirilis oleh Ajaib Teknologi Indonesia, terdapat lima sektor kunci yang diproyeksikan menjadi mesin pendorong keuntungan di tahun 2026. Mureks mencatat bahwa identifikasi sektor potensial ini memerlukan waktu untuk membaca tren pasar, mengevaluasi fundamental perusahaan, serta menentukan momentum masuk yang tepat.

Jika investor menunggu hingga sinyal pertumbuhan 2026 terlihat sangat jelas, harga saham di sektor-sektor unggulan tersebut berpotensi sudah terlanjur tinggi. Dengan mengambil posisi sejak tahun 2025, investor tidak hanya terhindar dari fear of missing out (FOMO), tetapi juga memberikan ruang bagi portofolio untuk tumbuh seiring dengan realisasi prospek jangka panjang masing-masing sektor.

1. Teknologi dan Digital Tetap Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Sektor teknologi terus menjadi tulang punggung utama pertumbuhan ekonomi. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai nilai lebih dari US$100 miliar pada tahun 2025. Angka ini ditopang oleh adopsi masif e-commerce, fintech, dan berbagai layanan digital lainnya.

Tren video commerce dan kecerdasan buatan (AI) juga menunjukkan penguatan signifikan. Pendapatan aplikasi berbasis AI di Indonesia bahkan tercatat tumbuh 127 persen secara tahunan. Peluang keuntungan dari sektor ini dapat diakses melalui investasi saham teknologi, atau dengan merintis bisnis di bidang Software as a Service (SaaS), otomatisasi, hingga industri kreator digital.

2. Kesehatan dan Farmasi, Sektor Defensif yang Konsisten

Sektor kesehatan dan farmasi dikenal memiliki ketahanan relatif terhadap gejolak ekonomi. Kebutuhan akan layanan medis, obat-obatan, dan produk kesehatan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.

Industri farmasi nasional diproyeksikan tumbuh stabil, didorong oleh digitalisasi layanan kesehatan serta pengembangan obat generik dan biosimilar. Saham di sektor ini seringkali menjadi penopang stabilitas portofolio, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

3. Energi Terbarukan Kian Dilirik Investor

Percepatan transisi energi dan komitmen pemerintah menjadikan sektor energi terbarukan semakin menjanjikan. Hingga semester pertama tahun 2025, realisasi investasi Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia telah mencapai sekitar USD1,3 miliar, atau setara dengan Rp21,64 triliun, mendekati target tahunan yang ditetapkan.

Proyek tenaga surya dan panas bumi menjadi primadona di kalangan investor. Peluang tidak hanya berasal dari pembangkit listrik, tetapi juga dari industri pendukung seperti kendaraan listrik, baterai, hingga teknologi penyimpanan energi. Saham energi hijau dinilai menarik untuk strategi investasi jangka menengah hingga panjang.

4. Konsumsi Rumah Tangga (Consumer, F&B, dan Ritel) Tetap Jadi Andalan

Konsumsi rumah tangga masih menjadi pilar utama perekonomian Indonesia. Meskipun konsumen kini lebih selektif dan cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok, sektor ritel secara keseluruhan tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

Tren yang menonjol adalah permintaan terhadap kemudahan, produk sehat, serta barang tahan lama. Pelaku usaha dengan strategi omnichannel dan nilai tambah yang jelas memiliki peluang besar untuk merebut pangsa pasar. Saham perusahaan konsumer berkualitas juga mencerminkan daya tahan sektor ini dalam jangka panjang.

5. Infrastruktur Dorong Efek Ganda Ekonomi

Pembangunan infrastruktur fisik dan digital tetap menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Pada tahun 2025, pemerintah meluncurkan Project Catalogue yang mencakup 46 proyek infrastruktur strategis lintas sektor.

Proyek-proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pembangunan jalan tol terus berlanjut. Sektor ini memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luas karena mendorong aktivitas konstruksi, logistik, hingga properti. Saham infrastruktur dan konstruksi relevan bagi investor yang mengincar pertumbuhan jangka panjang.

Mureks