Internasional

Francis Fukuyama Soroti Kebijakan Donald Trump sebagai Neo-Imperialisme Global yang Berbahaya

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali dituding menerapkan kebijakan di kancah dunia. Tuduhan ini dilontarkan oleh , seorang Senior Fellow di Freeman Spogli Institute for International Studies, Universitas Stanford, AS.

Menurut Fukuyama, serangkaian tindakan Trump, mulai dari upaya penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ancaman terhadap Denmark terkait penyerahan Greenland, hingga rencana pengosongan Jalur Gaza, merupakan indikasi kuat dari pola pikir neo-imperialis.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Gaza sebagai Puncak Neo-Imperialisme Trump

Fukuyama secara spesifik menyoroti usulan Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza setelah mengosongkannya dari sekitar dua juta penduduk Palestina. “Namun, tindakan puncak Trump sebagai seorang neo-imperialis adalah sarannya baru-baru ini agar Amerika mengambil alih Jalur Gaza setelah mengosongkannya dari sekitar 2 juta penduduk Palestina,” ujar Fukuyama dalam tulisannya pada Februari 2025.

Isu Greenland juga menjadi sorotan. Fukuyama menjelaskan bahwa Greenland memang memiliki nilai strategis yang meningkat bagi AS, terutama karena pemanasan global membuka jalur Arktik baru dan potensi sumber mineral yang melimpah. Namun, langkah-langkah yang diambil Trump dinilai lebih menyerupai agresi demi agresi.

Akar Sejarah dan Pola Pikir Ekspansionis

Pandangan serupa disampaikan oleh Simon Tisdall, komentator Urusan Luar Negeri di Observer, dalam tulisannya di laman The Guardian. Tisdall menyebut klaim mengancam Trump atas Kanada, Panama, dan Greenland membangkitkan kembali fantasi elitis dari gerakan populis sayap kanan tahun 1930-an, Technocracy Inc, yang berambisi menyatukan Amerika Utara dan Tengah di bawah kekuasaan AS.

“Pola pikir yang memicu pretensi semacam itu berakar dalam di jiwa nasional. Ini adalah campuran doktrin Monroe, ‘manifest destiny’, dan beban orang kulit putih. Ini jahat, ini berbahaya, dan ini kembali,” tegas Tisdall. Catatan Mureks menunjukkan, pola pikir ekspansionis semacam ini telah lama menjadi bagian dari sejarah kebijakan luar negeri AS.

Laman Monthly Review menambahkan, apa yang dilakukan Amerika Serikat saat ini adalah upaya membentuk dunia sesuai citranya, di mana penundukan negara lain menjadi kepanjangan tangan dari kapitalisme.

Kembali ke Abad Kesembilan Belas

Fukuyama membedakan imperialisme yang lunak, seperti aliansi keamanan dan tatanan ekonomi liberal yang dipromosikan AS sebelumnya, dengan bentuk imperialisme yang “nyata” saat ini. Menurutnya, kini AS berupaya memperluas wilayahnya dan tidak ragu mengancam penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan tersebut.

Menutup analisisnya, Fukuyama memberikan peringatan tajam. “Selamat datang kembali ke abad kesembilan belas,” katanya, mengisyaratkan kembalinya era kolonialisme dan ekspansi wilayah yang agresif.

Mureks