Keuangan

Dua Calon Emiten ‘Lighthouse’ dari Sektor Nikel dan Infrastruktur Siap Melantai di BEI Kuartal I-2026

Harapan pasar modal Indonesia kembali menguat memasuki awal tahun 2026. Sinyal positif ini datang dari potensi kehadiran dua calon emiten kategori lighthouse, yakni perusahaan berskala besar dan berkualitas tinggi, yang dikabarkan akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada kuartal I-2026.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, mengonfirmasi informasi tersebut. Menurutnya, pernyataan dari BEI telah meningkatkan antusiasme investor domestik. “Memasuki awal tahun 2026, antusiasme pasar modal domestik kembali meningkat seiring dengan pernyataan Bursa Efek Indonesia terkait kehadiran dua calon emiten kategori lighthouse yang dijadwalkan melantai di pasar modal pada kuartal I-2026,” ujar Azharys kepada tim redaksi Mureks pada Jumat (9/1/2026).

Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Sektor Strategis Pendorong Likuiditas Pasar

Kedua calon emiten ini berasal dari sektor yang sangat strategis, yaitu infrastruktur dan pertambangan. Kehadiran perusahaan dengan skala besar dan fundamental kuat dari sektor-sektor tersebut diproyeksikan akan memberikan suntikan likuiditas yang signifikan ke pasar.

Selain itu, IPO ini juga diharapkan dapat memperkuat kapitalisasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Emiten kategori lighthouse umumnya juga menjadi tolok ukur valuasi dan mampu meningkatkan kepercayaan investor, baik dari dalam maupun luar negeri, terhadap pasar saham Tanah Air. “Kedua perusahaan ini berasal dari sektor strategis, yakni infrastruktur dan pertambangan (mining), yang diproyeksikan akan memberikan suntikan likuiditas signifikan serta memperkuat kapitalisasi pasar IHSG,” papar Azharys.

Neo Energy, Pemain Besar Industri Nikel

Dari sektor pertambangan, perhatian investor tertuju pada Neo Energy. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu pemain besar di industri nikel nasional dan dinilai memiliki fondasi bisnis yang solid. Mureks mencatat bahwa Neo Energy memiliki cadangan sumber daya nikel sekitar 200 juta ton dengan area pengembangan seluas 10.800 hektare (ha), menunjukkan potensi jangka panjang yang signifikan.

Skala cadangan dan luas wilayah operasi tersebut menempatkan Neo Energy sebagai kandidat emiten strategis yang sangat relevan dengan agenda hilirisasi mineral dan pengembangan industri berbasis nikel di dalam negeri. “Mata pasar tertuju pada Neo Energy, sebagai salah satu pemain besar di industri nikel Indonesia, perusahaan ini memiliki basis fundamental yang kuat dengan cadangan sumber daya nikel mencapai 200 juta ton dan area pengembangan seluas 10.800 Ha,” beber Azharys.

Mureks