Platform streaming raksasa, Disney+ dan Netflix, dikabarkan tengah bersiap untuk merangkul format video vertikal sebagai bagian dari tren ‘microcontent’ yang berkembang pesat. Langkah ini diharapkan dapat mengubah kebiasaan menonton dan menjadikan aplikasi mereka sebagai destinasi harian bagi para penggemar.
Pengumuman penting ini disampaikan Disney dalam acara ‘Tech & Data Showcase’ di CES 2026. Perusahaan berencana memperkenalkan video pendek berformat vertikal di Disney+ sepanjang tahun ini, menyusul keberhasilan implementasi serupa di aplikasi TV langsung seperti ESPN, Hulu + Live TV, dan ABC pada tahun sebelumnya.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Erin Teague, Executive VP of Product Management Disney+, menegaskan komitmen perusahaan terhadap inovasi ini. “Kami tahu bahwa seluler adalah peluang luar biasa untuk mengubah Disney+ menjadi tujuan harian sejati bagi para penggemar, jadi itulah yang akan kami lakukan,” ujarnya. Teague menambahkan, “Bayangkan semua konten Disney berformat pendek yang Anda inginkan dalam satu aplikasi terpadu.”
Format video vertikal ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara, mulai dari program orisinal hingga klip adegan film dan acara yang dapat dibagikan di media sosial, mirip dengan fitur ‘Moments’ milik Netflix. Dalam wawancara dengan Deadline, Teague mengonfirmasi bahwa “semuanya ada di meja” namun dengan cepat menggarisbawahi bahwa tidak akan ada hal baru yang mengganggu pengalaman inti aplikasi Disney+. “It won’t be a kind of a disjointed, random experience,” katanya.
Sebelumnya, Disney telah menerapkan video vertikal di ESPN untuk rekap sorotan pertandingan dan analisis dari komentator. Sementara itu, ABC News menggunakan format ini untuk meluncurkan acara harian berdurasi pendek What You Need to Know yang merangkum berita utama, cerita, dan momen viral.
Tak hanya Disney, Netflix juga telah menguji coba feed video vertikal baru yang menyajikan klip dari judul-judul orisinalnya untuk menginspirasi pengguna menonton film atau acara. CTO Netflix, Elizabeth Stone, mengisyaratkan bahwa fitur ini dapat diperluas untuk menampung “different types of content” pada konferensi TechCrunch’s Disrupt 2025 tahun lalu. Mureks mencatat bahwa tren ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara penyedia layanan streaming berinteraksi dengan audiens mereka.
Tren ‘Microcontent’ dan Pelajaran dari Kegagalan Quibi
Fenomena ‘microcontent’ atau drama mikro telah menjadi salah satu tren dengan pertumbuhan tercepat di industri hiburan. Industri drama mikro global diproyeksikan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar 26 miliar dolar AS pada tahun 2030, menurut riset Media Partners yang dilansir Variety. Drama mini vertikal, yang dikenal sebagai duanju di Tiongkok, telah menjadi fenomena dalam empat tahun terakhir dan disebut-sebut sama adiktifnya dengan judi.
Namun, upaya program pendek orisinal bukanlah hal baru. Aplikasi Quibi pernah mencoba konsep serupa dengan film dan acara pendek yang bisa ditonton saat bepergian, namun gagal dan ditutup. Pertanyaannya, apakah konten serupa dari Disney+ atau Netflix akan mengalami nasib yang sama?
Para analis berpendapat tidak demikian. Quibi diluncurkan pada saat orang-orang menghabiskan lebih sedikit waktu di ponsel mereka, memiliki pemasaran yang buruk, dan konten yang kurang menarik. Saat ini, aplikasi drama mikro khusus seperti DramaBox dan ReelShort memang mengalami pertumbuhan pelanggan, tetapi masih beroperasi dengan kerugian akibat biaya akuisisi pelanggan yang tinggi.
Hal ini tidak akan menjadi masalah bagi layanan streaming besar seperti Disney+ atau Netflix, yang sudah memiliki basis pelanggan yang besar. Disney juga memiliki keuntungan tambahan berupa perpustakaan film pendek yang luas yang dapat digunakan kembali untuk format vertikal. Jelas bahwa perusahaan-perusahaan ini menganggap investasi dalam drama mikro sangat berharga, namun apakah tren ini akan terus berkembang masih harus dilihat.






