Bencana banjir berulang yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tidak hanya merusak infrastruktur umum, tetapi juga berdampak serius pada fasilitas pendidikan dan sosial. Salah satu yang merasakan dampak paling berat adalah Panti Asuhan Aisyiah di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, yang kini berjuang untuk bangkit kembali.
Sejak November 2025, wilayah Agam telah diterjang banjir berkali-kali. Pada Kamis, 1 Januari 2026, pantauan Mureks di lokasi menunjukkan Panti Asuhan Aisyiah, yang berdiri bersebelahan dengan SMAN 1 Tanjung Raya, masih terendam lumpur dan air. Fasilitas bermain anak-anak seperti ayunan dan jungkat-jungkit di TK yang menjadi tempat belajar anak-anak panti juga ikut terendam.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Trauma dan Semangat di Tengah Keterbatasan
Sekretaris Panti Asuhan Aisyiah, Fauzi, mengungkapkan bahwa kejadian banjir beruntun ini telah meninggalkan trauma mendalam bagi 32 anak yang tinggal di sana. Air banjir sempat merendam hingga sebetis orang dewasa di dalam bangunan panti.
“Trauma, kadang-kadang kalau dengan suara air kayak gitu kan ada ada rasa takutnya,” ucap Fauzi saat ditemui di lokasi, Kamis (1/1).
Meskipun demikian, Fauzi menceritakan bahwa semangat anak-anak untuk beraktivitas, mulai dari belajar hingga bermain, tidak pernah padam. Pihak panti terus memberikan edukasi mengenai bencana dan mengajarkan pentingnya keikhlasan.
“Kalau kita kan bimbingannya cuma kasih nasihat. Ini bencana, Allah yang menurunkan. Jadi kita harus bersabar, dan waspada,” imbuh Fauzi.
Optimisme dan Kebutuhan Mendesak
Dengan bekal semangat dan bantuan yang terus mengalir, Fauzi tetap optimistis bahwa pantinya dapat menghadapi cobaan ini. Ia yakin Nagari Maninjau akan pulih kembali.
“Ya, selama kita masih semangat, dan juga ada bantuan dari luar, dan dari teman-teman dari relawan yang lain, dan juga dari perantauan, insyaallah bisa,” kata Fauzi.
Saat ini, menurut Mureks, kebutuhan mendesak bagi Panti Asuhan Aisyiah adalah bantuan logistik berupa sembako untuk kebutuhan harian. Selain itu, mereka juga sangat membutuhkan material bangunan untuk merenovasi bagian panti yang rusak, seperti lantai, dan pembangunan tanggul sebagai antisipasi banjir di masa mendatang.
“Kalau untuk saat ini, kita karena kondisi ini kan hidupnya dari swadaya masyarakat, jadi kebutuhan harian, sembako, kemudian untuk kebersihan, dan untuk fisik kita butuh ruangan yang di belakang, kita melantai, dan juga untuk antisipasi, kita perlu tanggul untuk yang di sini, supaya nggak kejadian seperti yang pertama,” tandasnya.
Banjir di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, masih terus terjadi hingga Kamis siang (1/1). Aliran Sungai Muara Pisang tersumbat oleh longsoran tanah, menyebabkan air meluap dan mencari jalur lain menuju danau, memperparah kondisi di sekitar panti asuhan.






