Hiburan

Di Balik Keindahan Dunia Penuh Konflik: Mengarungi Hadea dalam Review Hell is Us

Petualangan Rémi Letam dalam Hell is Us, sebuah game aksi-petualangan dari Rogue Factor dan Nacon, membawa pemain ke dalam dunia Hadea yang dilanda perang saudara. Dirilis pada 4 September 2025 dengan harga $50, game ini menjanjikan pengalaman visual yang memukau namun di sisi lain, menyajikan struktur permainan dan sistem pertarungan yang terkesan kurang inovatif.

Kisah bermula ketika Rémi, seorang Penjaga Perdamaian ON, memutuskan untuk membelot demi mencari orang tuanya di Hadea, sebuah wilayah yang digambarkan mirip Yugoslavia. Namun, pencariannya terhenti saat ia justru terlibat dalam pertempuran melawan monster mengerikan yang disebut Hollow Walkers, atau “entitas limbic”, dan akhirnya mengakhiri “Calamity” apokaliptik. Seluruh narasi ini diceritakan Rémi kepada seorang perwakilan Ziel Council yang tidak menyenangkan, memberikan kerangka cerita yang unik.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Konflik Etnis dan Entitas Supernatural di Hadea

Hadea digambarkan sebagai wilayah yang terpecah belah oleh perang saudara antara dua kelompok etnis, Palomists dan Sabineans, yang memiliki sejarah kekerasan panjang. Konflik terbaru ini memicu kemunculan timeloops dan Hollow Walkers, fenomena yang ternyata telah terjadi sepanjang sejarah Hadea. Elemen supernatural ini, meskipun menyeramkan, menjadi efektif karena akarnya yang kuat dalam realitas konflik etnis, perselisihan agama, manipulasi politik nasionalis, dan ketidakefektifan kekuatan eksternal dalam menginterupsi siklus kekerasan.

Game ini menawarkan tiga sistem pertarungan utama: pertarungan jarak dekat berbasis kombo dan parry, pertarungan drone, serta pertarungan limbic yang menggunakan kekuatan khusus melalui glyph yang dapat dipasang pada senjata Rémi. Senjata, armor, glyph, dan modul drone dapat ditingkatkan, dan Rémi juga memiliki ruang untuk relik pasif dan aktif yang memodifikasi perilakunya.

Sistem Pertarungan yang Repetitif dan Mekanik Timeloop yang Kurang Memuaskan

Meskipun memiliki beragam sistem, catatan Mureks menunjukkan bahwa game ini hanya memiliki lima jenis musuh yang berbeda, dengan dua pertarungan bos yang terasa ganjil. Kurangnya variasi musuh membuat sistem pertarungan yang kompleks terasa sia-sia dan repetitif. Mekanik penyembuhan yang cerdas, berdasarkan berapa banyak serangan berturut-turut yang berhasil dilancarkan, memang membuat pertarungan terasa tidak terlalu brutal, namun minimnya alasan taktis untuk mengeksplorasi semua kemampuan tetap menjadi kelemahan.

Mekanik timeloop, yang seharusnya menjadi daya tarik, juga terasa menjengkelkan. Setelah sejumlah “Timeloop Guardians” dihancurkan, drone Rémi akan menjatuhkan prisma ajaib untuk meledakkannya. Namun, Guardian ini terlihat persis seperti monster biasa, tidak ada indikasi berapa banyak yang harus dibunuh, dan setelah loop ditutup, tidak ada pertarungan bos atau tantangan yang berarti. Hal ini menjadikannya sebuah tugas yang antiklimaks.

Eksplorasi dan Desain Level yang Memukau

Di luar pertarungan, Rémi banyak menghabiskan waktu memecahkan teka-teki. Teka-teki utama cukup mudah dipecahkan dengan memperhatikan lingkungan, sementara tugas sekunder “Good Deeds” memerlukan eksplorasi antar peta. Game ini mengabaikan peta tradisional dan checkpoint, namun hal ini tidak menjadi masalah besar karena levelnya tidak terlalu luas dan sulit untuk tersesat.

Salah satu kekuatan terbesar Hell is Us terletak pada desain visual dan eksplorasinya yang memukau. Level-level selanjutnya yang lebih linear dan terfokus, seperti Auriga Museum, menyajikan penceritaan yang luar biasa. Di museum ini, pemain perlahan-lahan menuruni departemen R&D dalam keadaan darurat, mengelola pasokan listrik terbatas, dan menemukan dua timeloop yang saling bersaing: satu kuno dari pendirian museum, dan satu lagi baru-baru ini untuk eksperimen militer dengan entitas limbic.

Kisah yang Terlalu Banyak Diceritakan, Kurang Ditunjukkan

Dunia Hell is Us yang kaya dan desainnya yang indah seringkali terbebani oleh penceritaan yang berlebihan. Alih-alih membiarkan seni visualnya berbicara, game ini justru menyajikan banyak “text dumps” multi-paragraf dan dialog yang menjelaskan kronologi sejarah secara berlebihan. Padahal, seperti yang terlihat di kota Marastan, game ini mampu membangun suasana yang mencekam dan cerita yang mendalam hanya melalui lingkungan dan pengumuman nasionalis yang bergema.

Dalam ringkasan Mureks, Hell is Us adalah game yang secara visual menakjubkan dan berani mengangkat tema konflik etnoreligius, nasionalisme, dan kekerasan siklis dengan kesungguhan. Namun, potensi besar ini terhambat oleh mekanik yang berlebihan, pertarungan yang repetitif, dan struktur yang kurang inovatif. Meskipun ada momen-momen yang terasa sangat baik untuk dimainkan, pemain harus melewati sekitar 10 jam “lore dumps” dan pertemuan musuh yang berulang sebelum mencapai bagian yang benar-benar memukau.

Secara keseluruhan, Hell is Us, dengan skor 72 dari PC Gamer, adalah sebuah petualangan yang indah namun seringkali menghalangi dirinya sendiri dengan pilihan desain yang kurang tepat.

Mureks