Tren

Defisit APBN 2025 Melebar hingga Rp695,1 Triliun, Menkeu: Demi Stimulus Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 merupakan langkah strategis pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global. Defisit APBN tercatat mencapai Rp695,1 triliun, melampaui target awal yang ditetapkan.

Dalam keterangan pers APBN Kita di Kementerian Keuangan pada Kamis (8/1), Purbaya menegaskan bahwa keputusan untuk tidak memangkas belanja negara adalah bagian dari kebijakan stimulus. “Anda pasti bertanya kenapa enggak dipotong saja belanjanya, supaya defisitnya kecil. Tapi kita tahu kan, ketika ekonomi sedang mengalami downturn, turun ke bawah, kita harus memberikan stimulus ke perekonomian,” ujar Purbaya.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Catatan Mureks menunjukkan, laporan sementara realisasi APBN 2025 mencatat defisit mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih besar dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,53 persen dan juga melampaui target tahun 2025 yang sebesar 2,78 persen terhadap PDB. Secara nominal, defisit Rp695,1 triliun ini lebih tinggi dari target Rp662 triliun.

Meski demikian, Purbaya memastikan bahwa defisit tetap terjaga di bawah batas aman yang ditetapkan undang-undang APBN 2025, yakni 3 persen. “Walaupun defisitnya membesar, kita tetap jaga tidak di atas 3 persen,” katanya. Ia menambahkan, “Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkenambungan tanpa membahayakan APBN.”

Purbaya menjelaskan, misi utama pemerintah adalah menjaga agar ekonomi tetap dapat berekspansi di tengah gejolak global yang tinggi. Kebijakan ini disebut sebagai counter cyclical. “Inilah yang disebut kebijakan counter cyclical, kalau saya buat nol defisit juga bisa, saya potong anggaranya tapi ekonominya morat-marit,” tegas Menkeu.

Belanja negara, menurut Purbaya, tetap adaptif dan akomodatif terhadap berbagai program prioritas yang bertujuan menyejahterakan rakyat. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat merasakan manfaat dari ekspansi ekonomi yang terjadi sepanjang tahun 2025.

Melihat ke depan, Purbaya Yudhi Sadewa optimistis terhadap fondasi ekonomi Indonesia di tahun 2026. Ia meyakini momentum pertumbuhan ekonomi akan semakin kuat. “Harusnya sih dengan kondisi seperti itu, defisit bisa ditekan ke level yang lebih rendah,” ucapnya.

Dampak pertumbuhan ekonomi tahun 2026 juga diproyeksikan lebih besar dibandingkan tahun 2024. “Tahun ini kita asumsikan pertumbuhan ekonominya 5,4 persen, dan kita berupaya agar pertumbuhannya lebih tinggi lagi,” pungkas Purbaya.

Mureks