Tren konsumsi rumah tangga di Indonesia menunjukkan sinyal perlambatan signifikan menjelang akhir tahun 2025. Berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI), proporsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk belanja atau average propensity to consume terus menurun selama tiga bulan berturut-turut hingga Desember 2025.
Pada Desember 2025, porsi pendapatan yang dibelanjakan responden tercatat sebesar 74,3%. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 74,6% pada November 2025, dan 74,7% pada Oktober 2025. Fenomena ini menarik perhatian, mengingat periode akhir tahun yang biasanya identik dengan peningkatan konsumsi menjelang momentum Natal dan Tahun Baru.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Sebaliknya, masyarakat justru terlihat lebih agresif dalam mempertebal bantalan likuiditas mereka. Survei BI mencatat bahwa porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan (savings to income ratio) mengalami kenaikan jelang akhir tahun 2025. Pada Desember 2025, porsi pendapatan yang ditabung mencapai 14,87%, meningkat dari 14,44% pada November 2025 dan 14,32% pada Oktober 2025.
Selain itu, beban cicilan pinjaman masyarakat juga terpantau sedikit melonggar. Porsi pembayaran cicilan utang terhadap pendapatan turun menjadi 10,81% pada Desember 2025, dari posisi 10,98% pada bulan sebelumnya.
Perilaku Konsumsi Berdasarkan Kelompok Pengeluaran
Jika dibedah lebih lanjut berdasarkan kelompok pengeluaran, catatan Mureks menunjukkan adanya perbedaan perilaku yang mencolok. Hanya kelompok pengeluaran Rp1 juta—Rp2 juta per bulan yang mengalami kenaikan porsi konsumsi pada Desember 2025 dibandingkan bulan sebelumnya. Proporsi pendapatan yang dibelanjakan kelompok ini melonjak ke level 77,3% pada akhir tahun, naik dari 76,5% pada November 2025.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan perilaku kelompok pengeluaran lainnya yang secara kompak menahan belanja mereka. Penurunan porsi konsumsi paling tajam terjadi pada kelas menengah, khususnya kelompok pengeluaran Rp4,1 juta—Rp5 juta. Kelompok ini memangkas porsi belanjanya dari 73,8% pada November 2025 menjadi 70,9% pada Desember 2025.
Sejalan dengan itu, kelompok pengeluaran Rp3,1 juta—Rp4 juta juga mengalami penurunan rasio konsumsi dari 73,8% pada November 2025 menjadi 73,2% pada Desember 2025. Demikian pula, kelompok pengeluaran Rp2,1 juta—Rp3 juta mencatatkan penurunan rasio konsumsi dari 75% pada November 2025 menjadi 74,6% pada Desember 2025.
Adapun, kelompok masyarakat kelas atas dengan pengeluaran di atas Rp5 juta menunjukkan sikap yang semakin defensif. Porsi konsumsi kelompok ini menyusut dari 71,4% pada November 2025 menjadi 70,84% pada Desember 2025, menjadikannya yang terendah dibandingkan seluruh kategori lainnya.






