Dapur dan aktivitas memasak sering kali dipandang sebagai wilayah yang lekat dengan perempuan, sebuah narasi yang tak hanya hadir dalam keseharian, tetapi juga berulang kali muncul dalam karya sastra. Dua cerpen, “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” karya Miranda Seftiana dan “Lidah Masakan Ibu” karya Edwin, sama-sama menjadikan dapur sebagai pusat cerita. Namun, kedua karya ini memotret pengalaman perempuan dengan cara yang berbeda, menghadirkan sudut pandang yang kontras.
Perbedaan tersebut diulas mendalam oleh Zahra Nur Rahma, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melalui pendekatan kritik sastra feminis. Mengacu pada aliran perempuan sebagai pembaca yang dikemukakan Elaine Showalter, analisis ini menempatkan pengalaman perempuan sebagai titik tolak pembacaan. Menurut Mureks, pendekatan ini memberi perhatian pada citra perempuan, peran yang dilekatkan kepadanya, serta cara perempuan memaknai peran tersebut dalam kehidupannya, bukan semata mencari penindasan, melainkan memahami respons dan arti yang diberikan perempuan atas perannya.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Suara Perempuan: Langsung dan Tak Langsung
Perbedaan fundamental antara kedua cerpen ini terlihat dari cara suara perempuan dihadirkan. Dalam “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan”, pengalaman perempuan disampaikan secara langsung melalui sudut pandang orang pertama. Zahra Nur Rahma mencatat, penggunaan kata “saya” membuat kegelisahan tokoh terasa dekat dan nyata bagi pembaca perempuan, mengajak mereka masuk ke dalam pikiran tokoh yang mempertanyakan relevansi peran memasak di tengah perubahan zaman.
Sebaliknya, dalam “Lidah Masakan Ibu”, suara perempuan lebih banyak muncul secara tidak langsung, melalui ingatan dan sudut pandang tokoh laki-laki. Meskipun perempuan tidak menjadi pencerita utama, dari perspektif pembaca perempuan, keberadaannya justru menjadi pusat emosional cerita. Perempuan hadir sebagai sosok yang dikenang, dirindukan, dan memberi makna mendalam bagi kehidupan tokoh lain.
Dapur: Ruang Negosiasi atau Penyembuhan?
Cara menghadirkan suara perempuan ini turut memengaruhi bagaimana dapur dimaknai dalam kedua cerpen. Dalam karya Miranda, dapur diposisikan sebagai ruang yang problematis dan memerlukan negosiasi ulang. Tokoh perempuan mempertanyakan keberadaannya, mencerminkan pengalaman perempuan modern yang tidak lagi menerima peran domestik secara otomatis. Dapur, dalam konteks ini, bukan ruang yang ditolak sepenuhnya, melainkan ruang yang maknanya dipikirkan ulang.
Berbeda dengan itu, dapur dalam cerpen Edwin tidak hadir sebagai ruang konflik. Zahra Nur Rahma menjelaskan, pernyataan dalam cerpen tersebut membuka kemungkinan bahwa dapur dapat menjadi ruang netral, bahkan ruang penyembuhan. Aktivitas memasak tidak lagi dibebankan pada perempuan semata, melainkan dipahami sebagai keterampilan hidup yang bersifat universal.
Relasi Antargenerasi: Ketegangan atau Warisan Nilai?
Hubungan perempuan dengan generasi sebelumnya juga memperlihatkan perbedaan signifikan. “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” menggambarkan hubungan ibu dan anak perempuan yang diwarnai ketegangan emosional. Ungkapan dalam cerpen tersebut, menurut analisis, bersifat ambivalen bagi pembaca perempuan. Di satu sisi, perempuan kembali dilekatkan pada wilayah domestik, namun di sisi lain, ia diposisikan sebagai penentu rasa dan keseimbangan kehidupan keluarga. Pengalaman perempuan di sini digambarkan penuh negosiasi antara tuntutan dan kesadaran diri.
Sementara itu, dalam “Lidah Masakan Ibu”, perempuan tua lebih dimaknai sebagai warisan dan kesinambungan nilai. Pengalaman dan pengetahuan perempuan tidak dianggap remeh, melainkan dihargai dan diwariskan. Perempuan tidak hadir sebagai pemberi tekanan, melainkan sebagai sumber pengetahuan dan cinta.
Sikap Perempuan terhadap Peran: Pilihan Sadar atau Penerimaan Tanpa Konflik?
Perbedaan sikap perempuan terhadap perannya juga tampak jelas. Dalam cerpen Miranda, perempuan berada dalam posisi antara tidak sepenuhnya menolak, tetapi juga tidak sepenuhnya menerima. Keputusan tokoh perempuan di akhir cerita menunjukkan bahwa memasak akhirnya dimaknai sebagai pilihan sadar. Dari sudut pandang pembaca perempuan, keputusan ini memperlihatkan bahwa tokoh memiliki kendali atas tindakannya sendiri dan mampu memberi makna atas peran yang ia jalani, bukan sekadar menjalankan tuntutan orang lain.
Sebaliknya, dalam cerpen Edwin, tokoh perempuan seperti Raila digambarkan menerima perannya tanpa konflik batin yang menonjol. Sikap ini, dari perspektif pembaca perempuan, tidak serta-merta menunjukkan ketidakberdayaan, melainkan penerimaan yang lahir dari rasa percaya dan kenyamanan dalam relasi rumah tangga.
Kesimpulan: Keragaman Pengalaman Perempuan dalam Sastra
Melalui pembacaan komparatif menggunakan kritik sastra feminis aliran perempuan sebagai pembaca, kedua cerpen ini sama-sama menempatkan perempuan di pusat makna, namun dengan pendekatan yang berbeda. “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” menampilkan pengalaman perempuan sebagai proses perenungan dan negosiasi diri di tengah perubahan zaman. Sementara itu, “Lidah Masakan Ibu” menghadirkan perempuan sebagai sumber kehangatan, memori, dan kesinambungan nilai keluarga.
Perbandingan ini, sebagaimana disimpulkan Zahra Nur Rahma, menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dalam sastra tidak tunggal, melainkan berlapis, beragam, dan sangat bergantung pada cara perempuan sebagai pembaca memaknainya.





