Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, membagikan sejumlah rekomendasi penting agar perekonomian Indonesia mampu bertahan dari berbagai guncangan pada tahun 2026. Menurutnya, ada empat tantangan utama yang berpotensi menciptakan instabilitas ekonomi di dalam negeri.
Empat Tantangan Utama Ekonomi RI 2026
Deni Friawan mengidentifikasi empat tekanan yang memerlukan perhatian serius. Mureks mencatat bahwa tantangan-tantangan ini meliputi:
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
- Risiko global dan tekanan dari eksternal yang dapat memengaruhi stabilitas.
- Permasalahan fiskal dan moneter yang memerlukan pengelolaan cermat.
- Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tingginya angka pengangguran usia muda serta terdidik, yang ia sebut sebagai ‘time bomb’ yang bisa membahayakan kapan saja.
- Volatilitas harga energi dan pangan yang dapat memicu inflasi dan mengganggu daya beli masyarakat.
Enam Rekomendasi Kebijakan untuk Ketahanan Ekonomi
Untuk mengantisipasi dan menghalau risiko-risiko tersebut, Deni Friawan menawarkan enam rekomendasi kebijakan yang dapat menjaga kondisi fiskal dan ekonomi Indonesia tetap stabil. Ia menekankan pentingnya:
-
Mempertahankan kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana. “Pertahankan kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, dengan memprioritaskan pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar untuk menstabilkan ekspektasi di tengah guncangan eksternal dan risiko arus keluar modal,” kata Deni saat acara Media Briefing: “Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik” pada Rabu (7/1/2026).
-
Meningkatkan pengumpulan pajak dan efisiensi pengeluaran untuk mempersempit defisit anggaran. Selain itu, pemerintah perlu memperpanjang jatuh tempo utang dan mengurangi ketergantungan pada obligasi pemerintah jangka pendek yang cenderung mahal.
-
Meningkatkan koordinasi kebijakan moneter-fiskal dengan menyelaraskan penerbitan obligasi, pembelian oleh bank sentral, dan kebijakan suku bunga. Langkah ini penting untuk menghindari jebakan kebijakan moneter, sambil tetap menjaga independensi Bank Indonesia.
-
Menargetkan dukungan ke sektor-sektor yang mengalami peningkatan PHK, terutama sektor padat karya. Pemerintah juga perlu memperluas program pasar tenaga kerja aktif dan mempercepat pelatihan ulang bagi kaum muda serta pekerja terdidik yang rentan terhadap pengangguran.
-
Memperkuat perlindungan sosial, mendiversifikasi sumber impor (mengingat impor bukanlah hal yang tabu), dan membangun cadangan strategis. Ini krusial untuk mengelola volatilitas harga pangan dan energi, terutama menjelang Ramadhan dan selama guncangan iklim.
-
Menggunakan periode harga energi yang lebih rendah untuk mereformasi subsidi. Dana yang dialokasikan untuk subsidi dapat dialihkan ke investasi yang meningkatkan produktivitas dan inisiatif transisi hijau, demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Referensi penulisan: www.cnbcindonesia.com






