Inter Milan berhasil mencuri tiga poin penting di markas Parma, Stadion Ennio Tardini, Kamis (8/1) dini hari WIB. Kemenangan 2-0 ini terasa spesial bagi pelatih Nerazzurri, Cristian Chivu, yang sukses menaklukkan mantan klubnya. Tambahan tiga poin ini sekaligus memperlebar jarak Inter menjadi empat poin di puncak klasemen Serie A, unggul atas pesaing terdekat, Napoli.
Dalam laga tandang ini, Chivu melakukan rotasi skuad untuk menjaga kebugaran para pemain jelang laga krusial kontra Napoli akhir pekan nanti. Sejumlah pilar utama seperti Denzel Dumfries, Davide Frattesi, dan Matteo Darmian diistirahatkan setelah kemenangan atas Bologna. Meski demikian, Inter tetap menunjukkan dominasi permainan yang solid di hadapan publik tuan rumah.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Pertandingan berjalan alot dengan Parma memberikan perlawanan sengit, terutama di lini pertahanan. Namun, mental juara Inter berbicara. Gol pembuka dari Federico Dimarco jelang turun minum dan gol penutup dramatis dari Marcus Thuram di masa injury time menjadi pembeda, memastikan Inter pulang dengan senyuman lebar.
Dominasi Awal dan Strategi Rotasi Chivu
Meski turun dengan skuad rotasi, Inter langsung tancap gas sejak menit awal. Absennya beberapa pemain kunci tidak menyurutkan agresivitas serangan La Beneamata. Peluang emas pertama lahir pada menit ke-14 ketika tembakan keras Yann Bisseck dari tepi kotak penalti nyaris membuahkan gol, namun kiper Parma Edoardo Corvi melakukan penyelamatan gemilang yang menepis bola hingga membentur mistar gawang.
Lautaro Martinez dan Francesco Pio Esposito yang dipercaya di lini depan juga bergantian menebar ancaman. Keduanya sempat mendapatkan peluang matang melalui sundulan dari posisi menguntungkan, namun upaya mereka masih melambung tipis di atas mistar gawang Parma.
Strategi rotasi Chivu terbukti cukup efektif dalam mengontrol permainan. Lini tengah yang dimotori wajah-wajah segar mampu mengimbangi permainan Parma. Kendati demikian, penyelesaian akhir yang kurang tenang di awal babak pertama membuat Inter harus bersabar menunggu momen untuk memecah kebuntuan.
Perlawanan Sengit Parma dan Drama Tiang Gawang
Parma yang tidak diunggulkan ternyata mampu memberikan kejutan berbahaya. I Ducali hampir saja unggul lebih dulu melalui aksi akrobatik Jakob Ondrejka. Memanfaatkan umpan silang Emanuele Valeri, tendangan voli Ondrejka menghantam tiang gawang Inter, membuat jantung pendukung tim tamu berdegup kencang.
Tak mau kalah, Inter membalas serangan tersebut dan kembali menemui nasib sial dengan tiang gawang. Tendangan voli Francesco Pio Esposito dari jarak dekat, yang memanfaatkan umpan silang Petar Sucic, juga hanya membentur rangka gawang. Jual beli serangan ini menandakan bahwa Parma tidak sekadar bertahan, melainkan berani meladeni permainan terbuka sang pemuncak klasemen.
Absennya sejumlah pemain Parma seperti Adrian Benedyczak dan Zion Suzuki memang mengurangi kekuatan tuan rumah, namun semangat juang mereka patut diacungi jempol. Mereka berhasil memaksa barisan pertahanan Inter bekerja keras untuk menjaga gawang tetap perawan di tengah gempuran balik yang cepat.
Kejelian Dimarco dan Intervensi VAR
Kebuntuan akhirnya pecah sesaat sebelum babak pertama usai. Federico Dimarco kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu bek sayap paling produktif. Dari sudut yang sangat sempit, Dimarco melepaskan tembakan kaki kanan yang gagal diantisipasi oleh Corvi, mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tim tamu.
Gol tersebut sempat dianulir oleh hakim garis yang mengangkat bendera tanda offside. Namun, teknologi Video Assistant Referee (VAR) menyelamatkan Inter. Tayangan ulang menunjukkan bahwa posisi Dimarco sah saat menerima assist dari Esposito, sehingga wasit akhirnya mengesahkan gol tersebut. Keunggulan satu gol di babak pertama memberikan ketenangan bagi pasukan Chivu saat memasuki ruang ganti. Gol ini sangat krusial karena meruntuhkan moral pertahanan Parma yang sebelumnya tampil cukup disiplin.
Drama Gol Dianulir dan Kegagalan Sucic
Memasuki babak kedua, drama kembali terjadi. Inter sempat mengira mereka sudah menggandakan keunggulan melalui gol Ange-Yoan Bonny yang menuntaskan umpan Nicolo Barella. Namun, selebrasi tersebut terhenti setelah wasit kembali meninjau VAR dan membatalkan gol karena adanya handball yang dilakukan Marcus Thuram dalam proses terjadinya gol.
Sebelum drama tersebut, Petar Sucic sebenarnya memiliki peluang emas untuk menyudahi perlawanan Parma lebih cepat. Lolos dari jebakan offside berkat umpan Lautaro Martinez, Sucic tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper. Sayangnya, eksekusinya justru melebar, membuang kesempatan untuk mengunci kemenangan lebih awal.
Parma pun sempat mencoba bangkit dengan memanfaatkan sisa waktu. Enrico Delprato nyaris menyamakan kedudukan lewat sundulan, namun bola masih melambung. Kiper Parma, Corvi, juga tampil heroik dengan menggagalkan peluang kedua Sucic dari sudut sempit, menjaga asa tuan rumah tetap hidup hingga detik-detik akhir.
Thuram Pecahkan Rekor dengan Gol Penutup
Ketika laga sepertinya akan berakhir dengan skor tipis, Marcus Thuram muncul sebagai pahlawan penutup. Sesaat setelah laga dilanjutkan pasca-insiden gol yang dianulir, Thuram berlari menyambut umpan lambung, mengecoh barisan pertahanan Parma, dan menaklukkan kiper Corvi untuk memastikan kemenangan 2-0.
Gol ini tidak hanya menyegel tiga poin, tetapi juga mencatatkan sejarah baru. Mureks mencatat bahwa gol Thuram yang tercipta pada menit ke-97 detik keenam menjadi gol paling telat yang pernah dicetak Inter di Serie A sejak format 20 tim kembali diberlakukan pada musim 2004/05. Catatan ini melampaui rekor penalti Lautaro Martinez saat melawan Venezia pada 2021.
Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Chivu dan pasukannya menatap laga big match kontra Napoli. Dengan kedalaman skuad yang teruji dan mentalitas pantang menyerah hingga detik terakhir, Inter Milan mengirimkan sinyal kuat bahwa mereka siap mempertahankan posisi puncak hingga akhir musim.
Referensi penulisan: www.goal.com






