Tren

Bursa Asia Diproyeksi Menguat Jelang Data Ketenagakerjaan AS dan Keputusan Tarif Impor Trump

Bursa saham Asia diprediksi akan dibuka di zona hijau pada perdagangan Jumat (9/1/2026). Proyeksi penguatan ini menyusul sesi perdagangan yang variatif di Wall Street dan antisipasi investor terhadap sejumlah agenda penting.

Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinanti-nanti. Selain itu, potensi keputusan Mahkamah Agung AS terkait tarif impor yang pernah diberlakukan oleh mantan Presiden Donald Trump juga menjadi perhatian.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Di sisi lain, harga minyak mentah terpantau melonjak signifikan. Kondisi ini turut memberikan sentimen positif bagi pasar komoditas global.

Kontrak berjangka indeks saham utama di Jepang, Hong Kong, dan Australia semuanya menunjukkan kenaikan pada awal perdagangan Asia. Ini mengindikasikan optimisme pasar regional.

Meski indeks S&P 500 di Wall Street mencatat pergerakan datar pada Kamis, hal tersebut menutupi adanya aksi jual pada saham-saham raksasa teknologi seperti Nvidia Corp dan Apple Inc. Sebaliknya, saham-saham kontraktor pertahanan justru menguat tajam, didorong oleh rencana Donald Trump untuk meningkatkan belanja militer.

Tak hanya itu, saham-saham berkapitalisasi kecil juga mencatat reli yang signifikan. Mureks mencatat bahwa Indeks Russell 2000, yang merefleksikan kinerja perusahaan kecil di AS, telah mengungguli Nasdaq 100 sekitar 4 poin persentase dalam lima sesi pertama tahun 2026. Capaian ini menandai awal tahun dengan kinerja relatif terbaik kedua yang pernah tercatat.

Pergerakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa investor mulai melakukan rotasi portofolio. Mereka beralih dari saham-saham teknologi bernilai tinggi ke perusahaan yang lebih kecil, sekaligus mengerem laju kenaikan saham teknologi berbasis kecerdasan buatan yang telah mendominasi pasar dalam beberapa tahun terakhir.

Mureks