Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang diperkirakan akan melanda mayoritas wilayah Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah dinamika atmosfer yang dapat menyebabkan cuaca signifikan, sehingga masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.
Prakirawan cuaca BMKG, Masayu, dalam keterangannya di Jakarta pada Minggu (11/1/2026), menjelaskan bahwa beberapa daerah yang perlu mewaspadai hujan lebat hingga sangat lebat meliputi Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Masayu juga menambahkan, untuk wilayah barat Indonesia, potensi hujan petir perlu diwaspadai di Palembang, Bandar Lampung, Semarang, Surabaya, dan Samarinda.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Sementara itu, hujan sedang diperkirakan terjadi di Serang, serta hujan ringan di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Kondisi berawan hingga berawan tebal diprediksi menyelimuti Banda Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Jambi, dan Pontianak. Mureks merangkum, informasi ini penting untuk diperhatikan guna mitigasi dini.
Untuk Indonesia bagian timur, BMKG memprediksi potensi hujan sedang di Mataram, Kupang, Makassar, Mamuju, dan Merauke. Hujan ringan berpotensi turun di Denpasar, Palu, Kendari, Ternate, Nabire, dan Jayawijaya. Adapun wilayah Manado, Gorontalo, Ambon, Sorong, Manokwari, dan Jayapura diperkirakan akan berawan tebal.
Di tengah peringatan cuaca ekstrem ini, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi banjir di Kecamatan Biringkanaya, khususnya di Perumahan Kodam. Wilayah ini diketahui menjadi langganan banjir setiap musim penghujan tiba. “Saya datang ke sini untuk melihat langsung kondisi terkini. Tujuannya adalah mencari solusi bagi masyarakat. Apalagi wilayah ini setiap tahun menjadi langganan banjir, sehingga memang perlu penanganan yang serius dan menyeluruh,” ujar Munafri di Makassar pada Sabtu (10/1/2026).
Menurut pantauan Mureks, peninjauan ini menjadi dasar awal bagi Pemerintah Kota Makassar untuk merumuskan langkah strategis dan solusi konkret agar permasalahan banjir di kawasan timur Kota Makassar tersebut dapat ditangani secara berkelanjutan. Munafri menambahkan, “Hampir setiap tahun, warga di Perumahan Kodam III, hingga kawasan Jalan Paccerakkang harus menghadapi persoalan yang sama, akibat kiriman air meluap, jalanan tergenang, dan aktivitas masyarakat lumpuh sementara waktu.”
Berdasarkan pengamatan lapangan dan keterangan warga, banjir di Makassar dipicu oleh luapan air kiriman dari Sungai Biring Je’ne akibat tingginya intensitas hujan. Kondisi ini diperparah dengan terganggunya alur aliran air, yang menyebabkan genangan tidak dapat mengalir dengan baik.






