Bintang Boston Celtics, Jaylen Brown, mendesak agar para pemain di Liga Bola Basket Nasional (NBA) diizinkan untuk memiliki saham kepemilikan di tim mereka. Wakil Presiden Asosiasi Pemain Bola Basket Nasional (NBPA) ini berpendapat, aturan ketenagakerjaan liga saat ini jauh tertinggal dibandingkan dengan kekayaan fantastis yang dihasilkan oleh olahraga tersebut.
Pernyataan Brown muncul di tengah melonjaknya valuasi waralaba NBA yang kini mencapai miliaran dolar. Menurutnya, para pemain seharusnya dapat turut menikmati pertumbuhan finansial tersebut, bukan hanya menerima gaji atas pekerjaan mereka.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pemain sebagai Eksekutif Perusahaan
Dalam wawancara dengan Bloomberg News di Boston pada Kamis (9/1/2026), Brown membandingkan posisi pemain NBA dengan para eksekutif di perusahaan-perusahaan besar. Ia mencontohkan, karyawan di raksasa teknologi seperti Apple atau merek olahraga global Nike sering kali menerima kepemilikan saham sebagai imbalan atas dedikasi dan masa kerja bertahun-tahun.
“Sweat equity yang Anda curahkan, Anda memang dibayar untuk melakukan pekerjaan Anda, tetapi Anda tidak dibayar atas pertumbuhan yang tercipta. Di perusahaan-perusahaan besar, hal itu terjadi,” kata Brown, yang juga dikenal sebagai wirausahawan dan filantropis.
Oleh karena itu, pemain yang telah empat kali menjadi NBA All-Star dan meraih MVP Final ini menegaskan, “Saya pikir para pemain seharusnya bisa berinvestasi bersama kelompok pemilik.”
Catatan Mureks menunjukkan, tren valuasi tim olahraga profesional memang terus meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menjadikan isu kepemilikan saham bagi atlet semakin relevan dalam diskusi industri.






