Teknologi

Biaya Sewa Mahal Hambat Regenerasi Startup Bandung, Garuda Spark Tawarkan Solusi Kolaboratif

Komunitas perusahaan rintisan (startup) di Bandung menyuarakan kekhawatiran serius terkait tingginya biaya sewa tempat. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penghambat utama dalam upaya meregenerasi ekosistem startup lokal yang tengah berjuang di tengah tantangan pendanaan.

Nur Islami Javad, Vice President Startup of Bandung, mengungkapkan bahwa startup lokal saat ini menghadapi beragam tantangan untuk berkembang. Selain sulitnya pendanaan, mereka juga terbebani oleh ongkos operasional yang membengkak, terutama untuk gaji pekerja dan sewa lokasi.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Meskipun tidak merinci angka pasti, Islami menegaskan bahwa biaya sewa tempat di Kota Kembang tersebut “cukup menguras kantong perusahaan yang baru merintis”.

“Sewa tempat di Bandung sangat mahal bapak ibu,” kata Islami dalam sebuah acara yang diselenggarakan bersama Komdigi pada Senin (5/1/2025).

Namun, di tengah kesulitan tersebut, kehadiran Garuda Spark yang baru beroperasi selama tiga bulan memberikan angin segar. Inisiatif ini menjadi wadah bagi para pemilik startup lokal di Bandung untuk berkumpul, bertukar gagasan, memperdalam ilmu, serta membangun jejaring guna memasarkan produk dan inovasi mereka ke pasar secara gratis.

Menurut Mureks, kehadiran Garuda Spark membuka ruang regenerasi yang sangat dibutuhkan, terutama mengingat tahun 2025 diprediksi menjadi periode penuh tantangan bagi startup dengan kondisi pendanaan yang semakin sulit.

Startup of Bandung sendiri merupakan komunitas yang menaungi 150 startup senior dan telah menjangkau lebih dari 2.500 anak muda melalui berbagai aktivitas. Islami menambahkan, saat ini perusahaan rintisan tengah berlomba menuju keberlanjutan bisnis, dan langkah ini berpotensi makin banyak jika para pemuda pemilik startup dapat mematangkan gagasannya di Garuda Spark.

Faktor Manusia dan Inovasi Jadi Kunci Keberhasilan Startup

Di sisi lain, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menyoroti bahwa kegagalan perusahaan rintisan tidak semata-mata disebabkan oleh sulitnya pendanaan. Faktor manusia, seperti kompetensi founder startup, dan kemampuan menghadirkan inovasi yang diterima pasar, juga menjadi penyebab krusial yang tidak boleh diabaikan.

Komdigi berharap, melalui Garuda Spark, para pelaku usaha startup dapat memperoleh wawasan yang lebih luas. Hal ini diharapkan mampu mendorong mereka melahirkan produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Lewat Garuda Spark mereka diajarkan bahwa inovasi tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus ada komersialnya. Kemudian diajarkan merangkai ide dan diajarkan terkait team building. Karena penyebab utama kegagalan startup dari hal-hal itu,” jelas Edwin.

Garuda Spark: Pendekatan Ekosistem untuk Kolaborasi

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa Garuda Spark dirancang sebagai respons komprehensif terhadap kompleksitas tantangan industri startup. Ia mengungkapkan bahwa di Bandung, Garuda Spark telah berjalan tiga bulan dan berhasil membantu 10 startup yang dikurasi.

“Di Bandung, Garuda Spark sudah berjalan tiga bulan. Sudah ada 10 startup yang dibantu, dikurasi, dan dilahirkan bersama oleh Kemkomdigi, Startup Bandung, Alkademi, dan mitra internasional seperti NUS Singapura,” ujar Meutya.

Menurut Meutya, kekuatan utama Garuda Spark terletak pada pendekatan ekosistem yang berhasil mempertemukan startup, investor, komunitas, dan pemerintah dalam satu ruang kolaborasi yang sinergis.

“Startup lokal perlu ruang untuk saling belajar dan tumbuh. Kolaborasi ini memberi kepercayaan diri agar mereka bisa bertahan dan berkembang,” tambahnya.

Pemerintah menunjuk Bandung sebagai rujukan nasional dalam pengembangan startup berbasis kolaborasi. Harapannya, model ini dapat menginspirasi daerah lain untuk membangun ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

Mureks