Nasional

Awal Tahun dan Perasaan Tertinggal: Mengapa Perbandingan Sosial Kerap Menjadi Pemicu Kegelisahan?

Awal tahun seringkali identik dengan semangat baru dan resolusi. Namun, di balik optimisme tersebut, tak sedikit individu yang justru dihantui kegelisahan. Mereka merasa hidupnya belum mencapai titik yang diharapkan, seolah tertinggal dari orang lain.

Perasaan ini, yang jarang muncul secara dramatis, kerap menyelinap saat kita berselancar di media sosial. Unggahan teman atau kenalan yang memamerkan pencapaian awal tahun, seperti pekerjaan baru, hubungan stabil, atau arah hidup yang jelas, tanpa sadar memicu perbandingan. Kita mulai mempertanyakan, “Mengapa saya belum sampai di sana?”

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Dalam ranah psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai perceived lag. Ini adalah persepsi subjektif bahwa laju perkembangan hidup seseorang terasa lebih lambat dibandingkan standar sosial yang diamati. Mureks mencatat bahwa perasaan ini tidak selalu berakar pada kegagalan objektif, melainkan lebih sering timbul dari cara progres dimaknai secara relatif, bukan dari absennya pertumbuhan itu sendiri.

Media sosial secara signifikan memperkuat dinamika ini melalui mekanisme upward social comparison. Alih-alih membandingkan proses dengan proses, kita cenderung membandingkan proses personal yang sedang berjalan dengan hasil akhir orang lain. Akibatnya, perkembangan diri yang masih dalam tahap berlangsung terasa tidak memadai, hanya karena belum mencapai titik “selesai” atau “layak diumumkan”.

Kompleksitas situasi ini bertambah karena standar perbandingan yang digunakan jarang disadari secara eksplisit. Terdapat apa yang disebut social timelines yang bekerja secara implisit—anggapan tak tertulis tentang kapan seseorang “seharusnya” mencapai tahapan tertentu dalam karier, hubungan, atau kehidupan pribadi. Timeline ini tidak pernah diumumkan atau disepakati secara kolektif, namun terinternalisasi melalui pengulangan dan normalisasi dalam masyarakat.

Konsekuensinya, setiap penyimpangan dari jalur tersebut cenderung ditafsirkan sebagai keterlambatan, bukan sekadar perbedaan ritme. Fase eksplorasi dianggap sebagai kebingungan, sementara periode refleksi dipersepsikan sebagai stagnasi. Ketika perjalanan hidup tidak sinkron dengan lingkungan sekitar, yang dipertanyakan bukan lagi konteks atau proses, melainkan nilai diri seseorang.

Awal tahun seringkali memperkuat tekanan psikologis ini. Dengan simbolisme evaluatif yang melekat, periode ini bertransformasi menjadi arena perbandingan sosial terselubung. Resolusi tahunan tidak lagi semata berfungsi sebagai alat refleksi personal, melainkan juga sebagai tolok ukur implisit—siapa yang telah melangkah jauh, dan siapa yang masih tertinggal.

Padahal, perkembangan manusia jarang bersifat linear atau seragam. Proses membangun makna, arah, dan stabilitas hampir selalu melibatkan fase jeda, ketidakpastian, serta penyesuaian ulang. Namun, narasi publik cenderung lebih menonjolkan resolusi dan hasil akhir, ketimbang proses atau perjalanan yang belum selesai.

Ketika nilai diri terlalu bergantung pada konfirmasi eksternal, koherensi internal perlahan terpinggirkan. Seseorang menjadi lebih sibuk mengejar kesesuaian dengan ritme kolektif daripada memahami arah personal yang sedang dibentuk. Dalam kondisi ini, perasaan tertinggal bukan lagi sinyal objektif, melainkan produk dari kerangka evaluasi yang tidak sepenuhnya dipilih.

Menyadari keberadaan perceived lag bukan berarti menolak ambisi atau membenarkan sikap pasrah. Kesadaran ini justru membuka ruang untuk mengevaluasi kembali cara kita menilai progres. Tidak semua pertumbuhan harus terlihat, dan tidak setiap fase hidup perlu dibuktikan di awal tahun. Mungkin, yang perlu kita evaluasi di awal tahun ini bukanlah kecepatan hidup, melainkan apakah arah yang kita tempuh masih benar-benar kita kenali dan selaras dengan diri sendiri.

Mureks