Washington dan Caracas telah mencapai kesepakatan signifikan di sektor energi, membuka jalan bagi ekspor minyak mentah Venezuela senilai hingga US$2 miliar atau sekitar Rp33,5 triliun ke Amerika Serikat. Kesepakatan ini tidak hanya berpotensi mengalihkan pasokan minyak dari China, tetapi juga menawarkan solusi bagi Venezuela untuk menghindari pemangkasan produksi lebih lanjut di tengah blokade ekspor yang ketat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat, menandainya sebagai hasil negosiasi penting yang memulihkan aliran minyak Venezuela ke pasar AS.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Menurut Trump, Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi untuk dikirim langsung ke pelabuhan-pelabuhan di Amerika Serikat. “Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uangnya akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya.
Kesepakatan ini dipandang sebagai respons pemerintah Venezuela terhadap tuntutan Trump agar membuka akses penuh bagi perusahaan-perusahaan minyak AS. Sebelumnya, Trump telah memperingatkan bahwa pemerintah Venezuela berisiko menghadapi tekanan militer lebih lanjut jika tidak memberikan “akses total” kepada Amerika Serikat dan perusahaan swasta terhadap industri minyak negara itu.
Blokade ekspor minyak yang diberlakukan Washington sejak pertengahan Desember 2025 telah menyebabkan Venezuela menumpuk jutaan barel minyak mentah di kapal tanker dan tangki penyimpanan. Tekanan ini memuncak dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS akhir pekan lalu. Sejumlah pejabat tinggi Venezuela mengecam keras langkah tersebut, menyebutnya sebagai penculikan dan menuduh Amerika Serikat berupaya merampas cadangan minyak besar milik negara Amerika Selatan itu.
Chevron Pegang Kendali Aliran Minyak
Dilansir Reuters, Trump menyatakan Menteri Energi AS Chris Wright akan bertanggung jawab mengeksekusi kesepakatan ini, dengan minyak diambil langsung dari kapal-kapal Venezuela dan dikirim ke pelabuhan AS. Pengumuman ini segera memicu reaksi di pasar, dengan harga minyak mentah AS turun lebih dari 1,5% pada Selasa.
Saat ini, aliran minyak Venezuela ke AS sepenuhnya berada di bawah kendali Chevron, mitra usaha patungan utama perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA. Chevron beroperasi berdasarkan otorisasi khusus dari pemerintah AS dan selama beberapa pekan terakhir menjadi satu-satunya perusahaan yang dapat memuat serta mengirim minyak Venezuela tanpa gangguan, dengan volume ekspor sekitar 100.000 hingga 150.000 barel per hari.
Namun, Mureks mencatat bahwa belum jelas apakah Venezuela akan memiliki akses langsung terhadap hasil penjualan minyak tersebut. Sanksi yang berlaku membuat PDVSA terisolasi dari sistem keuangan global, dengan rekening bank dibekukan dan akses transaksi dolar AS ditutup. Venezuela selama ini menjual minyak andalannya, Merey, dengan diskon sekitar US$22 per barel di bawah harga Brent, yang membuat nilai kesepakatan ini diperkirakan mencapai hingga US$1,9 miliar.
Mekanisme Penjualan dan Potensi Pembeli
Sumber-sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan bahwa pejabat AS dan Venezuela juga mendiskusikan berbagai mekanisme penjualan. Ini termasuk kemungkinan lelang bagi pembeli AS dan penerbitan lisensi AS bagi mitra bisnis PDVSA. Lisensi semacam itu sebelumnya memungkinkan mitra usaha dan pelanggan PDVSA, seperti Chevron, Reliance dari India, CNPC dari China, serta perusahaan Eropa seperti Eni dan Repsol, untuk mengakses minyak Venezuela, baik untuk diolah maupun dijual kembali.
Menurut dua sumber terpisah, sejumlah perusahaan tersebut telah mulai bersiap untuk kembali menerima kargo minyak Venezuela dalam beberapa hari terakhir. Ada pula pembahasan mengenai kemungkinan penggunaan minyak Venezuela untuk cadangan minyak strategis AS, meskipun Trump tidak menyinggung opsi tersebut dalam pengumumannya.
Reaksi Pemerintah AS dan Dampak Pasar
Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menyambut baik potensi peningkatan aliran minyak berat Venezuela ke Teluk AS. Menurutnya, hal tersebut akan berdampak positif bagi lapangan kerja, harga bensin, dan pemulihan ekonomi Venezuela. “Venezuela sekarang memiliki kesempatan untuk menarik modal, membangun kembali ekonominya, dan memanfaatkannya. Dengan teknologi Amerika dan kemitraan Amerika, Venezuela bisa ditransformasi,” kata Burgum dalam wawancara dengan Fox News.
Sebelum sanksi energi diberlakukan, kilang-kilang di Pantai Teluk AS mengimpor sekitar 500.000 barel minyak Venezuela per hari, mengingat kemampuan mereka memproses minyak berat dari negara tersebut. PDVSA sebelumnya telah memangkas produksi karena kehabisan kapasitas penyimpanan akibat embargo. Tanpa jalur ekspor baru, perusahaan itu diperkirakan harus melakukan pemangkasan produksi tambahan.
Prospek meningkatnya pasokan Venezuela ke pasar AS juga langsung terasa di pasar fisik, dengan selisih harga beberapa jenis minyak berat di Teluk AS turun sekitar 50 sen per barel pada Selasa. Seorang sumber industri minyak mengatakan Trump ingin kesepakatan ini terealisasi secepat mungkin. “Trump ingin ini terjadi cepat agar dia bisa mengatakan ini kemenangan besar,” ujarnya.






