Raksasa migas asal Amerika Serikat (AS), Chevron, dilaporkan tengah dalam pembicaraan serius dengan pemerintah AS. Diskusi ini bertujuan untuk memperluas lisensi operasional perusahaan di Venezuela, dengan target utama meningkatkan ekspor minyak mentah ke kilang miliknya sendiri serta membuka peluang penjualan ke pembeli lain.
Empat sumber Reuters yang memahami negosiasi ini mengungkapkan bahwa dialog tersebut berlangsung seiring dengan kemajuan komunikasi antara Washington dan Caracas. Ambisi dari langkah ini adalah menyuplai hingga 50 juta barel minyak Venezuela ke AS.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pemerintah AS menegaskan bahwa hasil penjualan minyak Venezuela tersebut tidak akan langsung diserahkan kepada pemerintah Presiden Nicolas Maduro. Dana hasil ekspor akan dikelola oleh wali amanat (trustee) yang diawasi ketat oleh AS. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pasokan barang-barang kebutuhan pokok dari Amerika Serikat ke Venezuela, sekaligus membantu perusahaan energi negara, PDVSA, mengosongkan inventaris mereka yang menumpuk akibat blokade minyak yang ketat.
Mureks mencatat, menurut laporan Wall Street Journal, bahwa mantan Presiden Donald Trump sebelumnya berniat untuk mengendalikan PDVSA. Upaya menguasai minyak Venezuela ini juga diyakini Trump dapat menurunkan harga minyak global hingga US$50 per barel.
Saat ini, Chevron merupakan satu-satunya perusahaan migas raksasa asal AS yang masih beroperasi di Venezuela berkat otorisasi khusus yang membebaskannya dari sanksi ekonomi. Namun, posisi ini sempat terancam setelah pemerintahan Donald Trump memperketat izin operasional Chevron pada Juli lalu, sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap Presiden Nicolas Maduro.
Kebijakan tersebut berdampak signifikan terhadap operasional perusahaan. Volume ekspor minyak mentah Venezuela oleh Chevron merosot tajam menjadi hanya 100.000 barel per hari (bpd) pada Desember, jauh di bawah angka 250.000 bpd yang sempat tercapai pada awal tahun. Pembatasan ketat tersebut juga membuat PDVSA tidak mendapatkan hasil penjualan atau keuntungan apa pun dari ekspor yang dilakukan oleh Chevron.
Jika perluasan lisensi ini disetujui, Chevron tidak hanya berpeluang mengembalikan level ekspor ke angka semula, tetapi juga mendapatkan keleluasaan untuk menyuplai mitra bisnis di luar AS. Perkembangan ini mulai memicu pergerakan di pasar global, di mana sejumlah mitra lama, termasuk perusahaan kilang asal India, dilaporkan mulai menjajaki kemungkinan dimulainya kembali pemuatan minyak dari pelabuhan-pelabuhan Venezuela.
Washington juga mendorong keterlibatan perusahaan AS lainnya dalam ekspor minyak ini. Nama-nama besar seperti Valero Energy, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips disebut-sebut masuk dalam radar. Keterlibatan Exxon dan Conoco menjadi sorotan tajam mengingat aset mereka di Venezuela pernah dinasionalisasi atau disita oleh pemerintah Venezuela dua dekade lalu.
“Potensi masuknya perusahaan-perusahaan ini sempat memicu ketegangan dalam negosiasi antara Caracas dan Washington,” ujar salah satu sumber kepada Reuters.
Sementara itu, pihak PDVSA mengonfirmasi adanya kemajuan dalam negosiasi dengan AS. Mereka menyatakan bahwa proses ini didasarkan pada transaksi komersial murni yang legal dan transparan. “Proses ini dilakukan berdasarkan persyaratan yang menguntungkan kedua belah pihak,” tulis pernyataan resmi PDVSA.
Meski negosiasi berjalan, AS tetap menunjukkan sikap tegas. Pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat, AS mencegat dan menyita dua kapal tanker yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik. Washington menegaskan bahwa embargo minyak masih berlaku bagi kapal-kapal yang melanggar sanksi.






