Tren

Antrean Mengular di Bandara Lombok, Arus Penerbangan Melonjak 35 Persen Jelang Tahun Baru 2026

Pemandangan antrean panjang penumpang kembali mewarnai Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah pada Sabtu (27/12/2025) pagi. Sejak subuh, koper-koper berwarna-warni bergerak perlahan di atas troli, menandai padatnya arus libur akhir tahun yang selalu meninggalkan jejak khas di bandara.

Petugas bandara terlihat bekerja dengan ritme cepat, diiringi pengumuman keberangkatan yang terdengar nyaris tanpa jeda. Fenomena ini merupakan potret nyata dari lonjakan arus penerbangan yang semakin besar dan kompleks setiap Desember.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Lonjakan Arus Penerbangan dan Penumpang

Data resmi menunjukkan, arus penerbangan di Bandara Internasional Lombok mengalami peningkatan signifikan sebesar 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total 712 penerbangan telah tercatat, melayani lebih dari 60 ribu penumpang selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Angka ini bukan sekadar statistik musiman, melainkan cerminan perubahan pola mobilitas masyarakat dan pergeseran fungsi bandara. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), bandara kini tidak hanya menjadi pintu masuk wisata, tetapi juga simpul pelayanan publik krusial yang menentukan kualitas pengalaman masyarakat.

Lonjakan ini terjadi di tengah ekspansi konektivitas, dengan pembukaan rute-rute baru dan penambahan frekuensi penerbangan. Bandara semakin diposisikan sebagai penggerak ekonomi daerah kepulauan. Pertanyaan krusial yang muncul adalah seberapa siap sistem pelayanan publik mengelola kepadatan ini tanpa mengorbankan kenyamanan, keselamatan, dan keadilan akses bagi semua penumpang.

Dinamika Pertumbuhan dan Tantangan Operasional

Meskipun arus penerbangan tumbuh pesat hingga 35 persen, pertumbuhan jumlah penumpang berada pada kisaran tujuh hingga delapan persen. Dinamika ini mengindikasikan dua hal penting.

Pertama, maskapai dan pengelola bandara lebih agresif dalam menambah slot penerbangan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang diperkirakan. Kedua, tingkat keterisian kursi yang berada di rentang 63 hingga 70 persen menunjukkan strategi kehati-hatian. Hal ini dilakukan agar layanan tetap berjalan stabil di tengah risiko cuaca buruk dan kepadatan operasional.

Puncak pergerakan penumpang di Bandara Internasional Lombok terjadi secara seragam setiap hari, yakni pada pagi dan sore hari. Jam-jam ini menjadi periode kritis, tidak hanya bagi operasional bandara, tetapi juga bagi ekosistem transportasi di sekitarnya. Jalan akses menuju bandara kerap padat, layanan transportasi lanjutan diuji, dan koordinasi antarinstansi harus berjalan presisi. Sedikit saja gangguan dapat memicu antrean memanjang dan potensi ketegangan.

Mureks