JAKARTA – Masa jabatan Ruben Amorim sebagai manajer Manchester United (MU) resmi berakhir. Pelatih asal Portugal itu dipecat awal pekan ini setelah 14 bulan menukangi Setan Merah, namun keraguan terhadap timnya ternyata sudah muncul sejak awal, bahkan dari hal sepele seperti cara pemain mengikat tali sepatu.
Amorim dikabarkan sempat merasa timnya tidak akan memenangkan satu pertandingan pun hanya dengan melihat bahasa tubuh para pemain sebelum pemanasan. Keputusan manajemen klub untuk melakukan perubahan ini diambil demi peluang finis terbaik di akhir musim, meski MU masih berada di peringkat keenam klasemen Premier League.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Keraguan Mendalam dan Skuad yang “Rusak”
Menurut laporan ESPN, masalah antara Amorim dan internal klub sudah berlangsung lama. Pada Januari 2025, ia bahkan disebut harus dibujuk untuk tetap bertahan setelah serangkaian hasil buruk. Sebulan berselang, tepatnya Februari 2025, Amorim mengungkapkan kepada orang-orang terdekatnya bahwa ia bisa menebak hasil pertandingan hanya dari sikap para pemain sebelum laga dimulai.
Dalam penilaian Amorim, skuad yang diwarisinya terlalu rapuh secara mental dan fisik. Ia terkejut dengan minimnya intensitas duel satu lawan satu serta lemahnya daya juang di lapangan. Kondisi itu membuatnya khawatir Manchester United berada dalam situasi yang ia sebut sudah “rusak” dari dalam, sebuah pandangan yang menurut Mureks, mencerminkan frustrasi mendalam sang pelatih.
Pernyataan Kontroversial dan Pemicu Pemecatan
Ketegangan memuncak usai hasil imbang 1-1 melawan Leeds United. Dalam konferensi pers, Amorim menegaskan dirinya datang sebagai manajer, bukan sekadar pelatih kepala, dan menyiratkan adanya campur tangan dewan klub dalam urusan teknis. Pernyataan tersebut diyakini menjadi pemicu akhir pemecatannya.
Selama di United, Amorim juga sempat menuai kontroversi lain. Ucapannya yang menyebut skuad saat ini berpotensi menjadi yang terburuk dalam sejarah panjang klub tak diterima dengan baik oleh para pemain. Kritik terbuka terhadap rekrutan anyar seperti Benjamin Sesko dan Patrick Dorgu, serta sejumlah pemain akademi, semakin memperkeruh suasana ruang ganti.
Manchester United kemudian merilis pernyataan resmi yang menyebut keputusan tersebut diambil dengan berat hati. Klub mengapresiasi kontribusi Amorim, termasuk keberhasilannya membawa tim ke final Liga Europa, namun menilai perubahan diperlukan demi hasil terbaik di liga.
Solskjaer Mencuat sebagai Kandidat Pengganti
Di tengah situasi tersebut, nama Ole Gunnar Solskjaer mulai mencuat sebagai kandidat kuat pengganti Amorim. Media Norwegia melaporkan Manchester United sudah membuka pembicaraan dengan mantan manajer mereka itu. Solskjaer sendiri sebelumnya mengaku siap kembali jika klub memintanya, menandai kemungkinan reuni di Old Trafford dalam waktu dekat.






