Tren

Menari hingga Bermain Gim: Studi Ungkap Aktivitas Kreatif Potensial Perlambat Penuaan Otak

JAKARTA – Keterlibatan rutin dalam berbagai aktivitas kreatif, mulai dari menari, membaca, hingga bermain gim video, terbukti berpotensi membantu memperlambat proses penuaan otak. Temuan ini sangat relevan, terutama bagi individu di usia lanjut, dan menjadi harapan baru dalam upaya menjaga fungsi kognitif.

Penelitian yang dilakukan oleh SWPS University di Polandia menggarisbawahi bahwa aktivitas kreatif tidak hanya mendukung fungsi otak, tetapi juga berkorelasi dengan usia otak yang lebih muda. Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka, Nature Communications.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Aktivitas Kreatif dan Usia Otak yang Lebih Muda

Aneta Brzezicka, seorang psikolog sekaligus Head of Center for Neurocognitive Research SWPS University, menjelaskan urgensi temuan ini. “Seiring populasi menua, semakin banyak orang yang mengalami penurunan kognitif dan demensia. Jika kita dapat mengidentifikasi aktivitas sehari-hari yang membantu otak tetap lebih ‘muda’, kita bisa menunda gangguan memori, perhatian, dan kemandirian,” ujar Brzezicka kepada Medical News Today.

Studi ini melibatkan analisis data kesehatan dan pencitraan saraf dari lebih dari 1.400 partisipan yang tersebar di 13 negara. Sebagian dari partisipan ini adalah individu yang memiliki keahlian khusus dalam bidang kreatif, seperti menari tango, bermusik, seni visual, dan permainan gim strategi.

Menurut Brzezicka, aktivitas kreatif memiliki manfaat ganda bagi otak karena menggabungkan berbagai unsur penting. Aktivitas-aktivitas ini menuntut kemampuan kognitif yang kompleks, melibatkan emosi, seringkali bersifat sosial, serta membutuhkan koordinasi motorik halus.

Pengukuran Usia Otak dan Hasil Signifikan

Untuk mengukur usia otak partisipan, peneliti menggunakan model komputasi canggih yang dikenal sebagai brain clock. Model ini mampu memperkirakan usia otak berdasarkan pola aktivitas listrik otak yang direkam melalui Elektroensefalogram (EEG) dan Magnetoensefalografi (MEG). Konsep brain age gap, yaitu selisih antara usia otak yang diprediksi dan usia kronologis sebenarnya, menjadi indikator utama. Usia otak yang lebih rendah dari usia kronologis menunjukkan proses penuaan otak yang lebih lambat.

Catatan Mureks menunjukkan, hasil penelitian ini sangat menjanjikan. Partisipan yang aktif dalam kegiatan kreatif memiliki usia otak yang secara signifikan lebih muda dibandingkan dengan kelompok pembanding. Efek paling kuat terlihat pada individu yang telah mengembangkan keterampilan kreatifnya selama bertahun-tahun.

“Di semua bidang yang diteliti, para ahli memiliki pola aktivitas otak yang dinilai sekitar empat hingga tujuh tahun lebih muda dibandingkan individu lain dengan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan yang sama,” tambah Brzezicka.

Manfaat serupa juga teramati pada partisipan yang mengikuti pelatihan jangka pendek. Dalam studi pelatihan gim strategi, partisipan yang berlatih sekitar 30 jam menunjukkan penurunan usia otak sekitar tiga tahun, disertai peningkatan perhatian dan kinerja kognitif.

Para peneliti menyimpulkan bahwa otak orang dewasa tetap plastis dan mampu mengalami perubahan terukur dalam waktu yang relatif singkat.

Pandangan Ahli dan Rekomendasi

Raphael Wald, seorang neuropsikolog dari Marcus Neuroscience Institute, menanggapi temuan ini dengan menegaskan pentingnya menjaga aktivitas mental melalui beragam kegiatan. Menurutnya, kreativitas memainkan peran krusial karena mendorong cara berpikir yang abstrak dan fleksibel.

Senada, Megan Glenn, neuropsikolog klinis dari Hackensack Meridian Neuroscience Institute, menilai studi ini menyoroti betapa pentingnya membangun cadangan kognitif sejak usia muda. Ia berpendapat bahwa pengembangan minat kreatif dapat menjadi investasi jangka panjang untuk kesehatan otak.

Mureks merangkum, para ahli menyarankan masyarakat untuk memilih aktivitas kreatif yang benar-benar disukai agar dapat dilakukan secara berkelanjutan. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan secara profesional untuk memberikan manfaat signifikan bagi fungsi kognitif.

Mureks