Di tengah hiruk pikuk investasi infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi raksasa yang kini menyaingi produk domestik bruto (PDB) negara, muncul kekhawatiran akan gelembung triliunan dolar. Namun, di balik kebisingan tersebut, ada sinyal yang lebih menarik: sementara sebagian besar organisasi berjuang untuk mendapatkan nilai dari proyek AI, sekelompok kecil yang terus bertumbuh justru melihat keuntungan nyata.
Perbedaannya, menurut Christian Pedersen, Chief Product Officer di IFS, adalah mereka tidak mengejar hype atau menerapkan AI demi AI itu sendiri. Mereka menerapkannya di tempat yang paling penting, yaitu di industri yang menjaga dunia tetap berjalan. Inilah yang disebut AI Industri, penerapan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan operasi di sektor manufaktur, energi, utilitas, dan logistik. Dan secara diam-diam, AI Industri membuktikan apa yang benar-benar berhasil.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
70% Pekerja yang Terlupakan oleh AI
Sebagian besar percakapan publik tentang AI berpusat pada 30% tenaga kerja yang bekerja di belakang meja. Di sinilah sebagian besar inovasi yang terlihat terjadi: konten, copilot, dan produktivitas. Namun, sekitar 70% dari tenaga kerja global sama sekali tidak bekerja di kantor. Mereka adalah para insinyur, teknisi, dan pekerja lapangan yang memelihara, mengoperasikan, dan mengirimkan sistem fisik yang menjadi sandaran ekonomi kita.
Bagi mereka, AI adalah alat praktis untuk membantu pekerjaan diselesaikan lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien. AI Industri diterapkan pada realitas sehari-hari peran-peran ini. Ia menghubungkan mesin, sensor, dan sistem. Ia menganalisis anomali, memprediksi kegagalan, dan mengotomatiskan penjadwalan.
Tenaga Kerja Industri Baru: Kolaborasi Manusia dan AI
Konvergensi ini telah menciptakan kebutuhan untuk melipatgandakan tenaga kerja hingga 10 kali lipat: para ahli manusia ditingkatkan ke peran orkestrasi dan penilaian, agen AI menjalankan diagnostik dan alur kerja sepanjang waktu, serta pekerja robot menangani tugas-tugas berbahaya dan pekerjaan presisi.
Bersama-sama, mereka membuka produktivitas yang sebelumnya dibatasi oleh ketersediaan manusia saja. Singkatnya, ini adalah kecerdasan di balik pekerjaan yang sebagian besar orang tidak akan pernah melihatnya.
Menjembatani Kesenjangan Eksekusi AI dan Pentingnya Kepercayaan
Tantangan terbesar bagi sebagian besar perusahaan adalah bagaimana membuat AI dapat diskalakan. Catatan Mureks menunjukkan, penelitian di seluruh industri global menunjukkan “kesenjangan eksekusi” yang melebar antara kecepatan adopsi dan kesiapan organisasi untuk menggunakan AI secara efektif.
Para pemimpin menyadari bahwa keberhasilan AI lebih berkaitan dengan manajemen perubahan daripada kinerja model. Teknologi adalah bagian yang mudah. Bagian yang sulit adalah perubahan: memikirkan kembali peran, melatih ulang orang, dan membangun kembali kepercayaan pada keputusan yang didukung data.
Kepercayaan, pada kenyataannya, mungkin merupakan faktor yang paling diremehkan dalam fase kematangan AI berikutnya. Banyak eksekutif tetap ragu untuk membiarkan sistem AI membuat keputusan independen. Itu adalah naluri, terutama ketika konsekuensi kegagalan bersifat operasional dan finansial.
Pandangan yang lebih pragmatis adalah memperlakukan AI seperti karyawan baru. Tidak ada pemimpin yang mempekerjakan lulusan baru dan memberinya wewenang penuh pada hari pertama. Mereka dilatih, diawasi, dan secara bertahap diberdayakan seiring dengan bertambahnya pemahaman mereka.
Hal yang sama harus berlaku untuk sistem AI; mereka harus dipercaya melalui pengalaman, bukan asumsi. Seiring waktu, seiring dengan meningkatnya kepercayaan, proses persetujuan akan memberi jalan bagi otonomi. Evolusi ini akan mendefinisikan era AI perusahaan berikutnya, yaitu Agentic Age.
Dari Hype ke Nilai Nyata: Integrasi dan Keberlanjutan
Jika ledakan AI saat ini didefinisikan oleh investasi, yang berikutnya akan terjadi melalui integrasi. Perusahaan yang paling berpandangan ke depan kini menanamkan AI ke dalam alur kerja daripada memasangnya ke sistem lama yang sudah ada.
Pergeseran ini mengubah model bisnis. Salah satu pergeseran paling mendalam yang sedang berlangsung adalah servitization, yaitu pergeseran dari menjual produk menjadi memberikan hasil. Alih-alih membebankan biaya untuk sebuah mesin, organisasi membebankan biaya untuk kinerjanya: waktu operasional, efisiensi, atau ketersediaan.
Model tersebut membuat AI sangat diperlukan karena menyediakan kecerdasan untuk memprediksi masalah sebelum terjadi dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk menjaga layanan peralatan.
AI Industri juga muncul sebagai pendorong utama keberlanjutan. Seiring dengan pelaporan ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola) yang menjadi wajib di berbagai yurisdiksi, AI membantu organisasi memantau emisi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan membuat keputusan berbasis data yang mengurangi limbah dan biaya.
Masa Depan AI yang Tenang dan Bernilai
Ada perasaan yang berkembang bahwa sektor AI sedang menuju perombakan. Beberapa perusahaan akan terlalu berlebihan, yang lain akan berkonsolidasi, dan beberapa akan berkembang. Namun, koreksi dalam investasi spekulatif, pada akhirnya, adalah tanda kemajuan.
Kenyataannya adalah AI Industri sudah diterapkan, dan bukan karena hype atau harapan. Ini karena AI Industri memecahkan masalah nyata bagi orang-orang nyata. AI Industri membantu industri beroperasi lebih efisien, lebih berkelanjutan, dan lebih cerdas, serta akan menjadi norma yang tenang dan umum.
Sementara investor memperdebatkan apakah AI adalah gelembung, dunia industri membuktikan nilainya. Ini bukan Intelligent Age demi dirinya sendiri, melainkan era industri cerdas. Dan dampaknya akan bertahan lama setelah hype dan gelembung mereda.






