Teknologi

40 Juta Orang Gunakan ChatGPT untuk Konsultasi Kesehatan Setiap Hari, OpenAI Sebut AI ‘Sekutu’ Medis

OpenAI, pengembang model bahasa besar ChatGPT, mengumumkan bahwa sekitar 40 juta orang di seluruh dunia kini memanfaatkan platform kecerdasan buatan (AI) tersebut untuk mencari informasi dan saran terkait kesehatan setiap harinya. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam adopsi AI di sektor kesehatan.

Dalam laporannya yang dirilis pada Rabu, 07 Januari 2026, OpenAI menyebut ChatGPT sebagai “sekutu” dalam layanan kesehatan. Menurut Mureks, laporan tersebut juga mencatat bahwa lebih dari lima persen dari total perintah (prompt) yang diberikan kepada ChatGPT berkaitan dengan kesehatan. Bahkan, 200 juta dari 800 juta pengguna mingguan chatbot ini mengajukan setidaknya satu pertanyaan terkait kesehatan setiap pekannya.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Pengguna secara rutin bertanya tentang gejala, obat-obatan, pilihan perawatan, dan cara menavigasi sistem kesehatan yang seringkali kewalahan. Sebuah survei terhadap 1.042 orang dewasa di AS yang menggunakan AI untuk kesehatan dalam tiga bulan terakhir mengungkap empat penggunaan utama:

  • 55% menggunakan AI untuk “Memeriksa atau mengeksplorasi gejala”
  • 52% menggunakan chatbot untuk “Mengajukan pertanyaan kesehatan kapan saja”
  • 48% untuk “memahami istilah atau instruksi medis”
  • 44% menggunakan AI untuk “mempelajari pilihan perawatan”

OpenAI menyatakan statistik ini menunjukkan “bagaimana warga Amerika menggunakan AI untuk navigasi layanan kesehatan: mengatur informasi, menerjemahkan jargon, dan membuat draf yang dapat mereka verifikasi.”

Salah satu contoh yang disoroti perusahaan adalah pengalaman Ayrin Santoso dari San Francisco. Ia menggunakan ChatGPT untuk membantu mengoordinasikan perawatan darurat bagi ibunya di Indonesia. Sang ibu mengalami kehilangan penglihatan mendadak yang awalnya dikaitkan dengan kelelahan.

Menurut OpenAI, Santoso memasukkan gejala, saran sebelumnya, dan konteks ke ChatGPT. Chatbot tersebut kemudian memberikan peringatan jelas bahwa kondisi ibunya bisa menjadi sinyal krisis hipertensi dan kemungkinan stroke. Berkat respons awal dari ChatGPT, ibu Santoso segera dirawat di rumah sakit di Indonesia dan sejak itu “memulihkan 95% penglihatannya di mata yang terkena.”

Waspada Risiko Penggunaan AI untuk Kesehatan

Meskipun OpenAI berpendapat AI dapat membantu di luar jam praktik klinik ketika dokter sulit dijangkau, ada risiko serius yang perlu diwaspadai, terutama jika pengguna menerima informasi ChatGPT sebagai kebenaran mutlak.

ChatGPT tidak dapat menggantikan dokter. Chatbot ini tidak memiliki riwayat medis lengkap pasien dan masih bisa memberikan informasi yang keliru dengan konsekuensi serius. OpenAI menyatakan sedang bekerja sama dengan rumah sakit dan peneliti untuk meningkatkan akurasi dan keamanan. Mureks mencatat bahwa jutaan orang telah memutuskan AI menjadi bagian dari rutinitas kesehatan mereka, terlepas dari kekhawatiran yang ada.

Angka 40 juta pengguna harian memang merupakan tonggak penting. Namun, penting untuk diingat bahwa masyarakat telah menggunakan teknologi seperti Google untuk pertanyaan terkait kesehatan selama lebih dari satu dekade.

Dulu, hasil pencarian teratas Google didominasi oleh situs web kesehatan tepercaya seperti NHS atau WebMD. Kini, fitur AI Overviews menambahkan elemen ketidakpastian AI. Terlebih lagi saat beralih ke chatbot AI seperti ChatGPT, yang berpotensi “membuat informasi paling konyol.”

Meskipun demikian, penggunaan AI untuk tips cepat terkait masalah kesehatan mungkin bukan hal buruk, terutama di negara-negara dengan biaya konsultasi dokter yang tinggi. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: seberapa jauh kita bisa mempercayai ChatGPT untuk mengambil risiko terkait kesehatan?

Mureks