LAMONGAN, Mureks – Mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) ke-7 Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menggelar kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Balai Posyandu RW 2 Desa Kedungpring, Kecamatan Kedungpring, Lamongan. Acara yang berlangsung pada Rabu, 7 Januari 2026, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini bertujuan memperkuat kesadaran kesehatan masyarakat melalui partisipasi aktif warga.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari program pengabdian masyarakat BBK-7 UNAIR yang menempatkan warga sebagai subjek utama. Mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai pelaksana, melainkan sebagai mitra belajar yang berkolaborasi langsung dengan Kader Posyandu Desa Kedungpring dan masyarakat setempat.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Pemeriksaan Kesehatan Menyeluruh Lintas Usia
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan mencakup berbagai kelompok usia, mulai dari balita, remaja, ibu produktif, hingga lansia. Layanan yang diberikan meliputi pengukuran Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB), Lingkar Perut (LP), Lingkar Lengan Atas (LILA), dan Lingkar Kepala (LIKA). Khusus bagi peserta lansia, dilakukan pemeriksaan Gula Darah Acak (GDA) sebagai langkah deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM).
Catatan Mureks menunjukkan, antusiasme warga cukup tinggi dengan partisipasi 18 balita dan ibu usia produktif, 30 remaja, serta 2 lansia. Kegiatan diawali dengan sambutan dari perwakilan Kader Posyandu Desa Kedungpring yang menekankan, “pentingnya Posyandu sebagai layanan kesehatan dasar sekaligus ruang edukasi masyarakat.” Pemeriksaan kemudian dilakukan secara bergiliran dengan pendampingan ketat dari kader dan mahasiswa BBK-7 UNAIR.
Dukungan Terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Inisiatif Posyandu ini selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-3, yaitu “Kehidupan Sehat dan Sejahtera”. Upaya promotif dan preventif melalui pemeriksaan rutin, pemantauan tumbuh kembang balita, serta pengecekan kesehatan remaja dan lansia diharapkan mampu meminimalkan risiko stunting, masalah gizi, dan penyakit degeneratif sejak dini.
Lebih lanjut, kolaborasi aktif antara mahasiswa, kader Posyandu, dan warga juga mencerminkan implementasi SDGs poin ke-17, “Partnerships for the Goals”. Kemitraan lintas peran ini menegaskan bahwa pencapaian tujuan kesehatan komunitas memerlukan partisipasi dan kepemilikan bersama, bukan hanya pendekatan top-down.
Pembelajaran Kontekstual bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa BBK-7 Universitas Airlangga, kegiatan Posyandu ini menjadi ruang belajar kontekstual yang berharga. Interaksi langsung dengan warga membuka pemahaman bahwa “kesehatan tidak hanya soal pemeriksaan medis, tetapi juga berkaitan dengan pola dan gaya hidup, kesadaran, serta keberlanjutan peran komunitas,” seperti yang diungkapkan salah satu mahasiswa.
Kegiatan ditutup dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada seluruh peserta. PMT ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap gizi, tetapi juga menjadi simbol perhatian dan pengingat bahwa upaya membangun kesehatan desa dimulai dari langkah-langkah sederhana dan partisipatif. Dari Desa Kedungpring, praktik kolaboratif ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai SDGs dapat diwujudkan melalui kebersamaan antara akademisi dan masyarakat.






