Kamis, 01 Januari 2026 – Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UINSGD) Bandung berhasil mencetak sejarah baru di kancah futsal nasional. Kampus yang identik dengan nuansa keislaman ini secara mengejutkan keluar sebagai juara Campus League Futsal 2025, menyingkirkan sejumlah perguruan tinggi yang dikenal kuat dalam pembinaan olahraga seperti UPI, STKIP, UNJ, dan UNY.
Prestasi gemilang UINSGD ini tidak hanya terbatas di babak regional Jakarta, melainkan berlanjut hingga babak nasional. Tim futsal UINSGD menunjukkan performa konsisten dan berhasil mengalahkan UNY di partai final, mengukuhkan dominasi mereka sebagai kuda hitam yang patut diperhitungkan.
Dapatkan berita menarik lainnya di mureks.co.id.
Strategi Pembinaan Futsal UINSGD: Kunci di Balik Kejutan
Keberhasilan UINSGD memicu pertanyaan banyak pihak mengenai rahasia di balik kekuatan tim ini. Mureks mencatat bahwa, untuk menggali lebih dalam, tim redaksi Mureks berkesempatan mewawancarai pelatih UINSGD, Deden Zaeni Muhibban, yang akrab disapa Kang Deden.
Kang Deden menjelaskan bahwa futsal di UINSGD sangat hidup, didukung oleh kebijakan kampus yang suportif. “Iya, futsal memang sangat hidup. Apalagi di UINSGD ada jalur prestasi. Otomatis banyak siswa SMA yang ketika ingin kuliah dan tetap aktif bermain futsal, mencari kampus yang mendukung,” ujarnya.
Dukungan kampus tidak hanya sebatas jalur prestasi, tetapi juga mencakup kemudahan dispensasi dan pengembangan jurusan yang relevan. “UINSGD termasuk yang sangat suportif, baik dari sisi kebijakan maupun pengembangan jurusan. Itu jadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin berkuliah, tetapi tetap bisa menjalani passion-nya di futsal,” tambah Kang Deden.
Membangun Mental Juara: Latihan di Luar Kampus dan Seleksi Objektif
Dukungan UINSGD terhadap pembinaan futsal cukup komprehensif. Kang Deden mengungkapkan, “Proses dispensasi tidak terlalu rumit dan sekarang jurusannya juga sudah berkembang, seperti manajemen. Ketika anak-anak sudah masuk, saya arahkan sejak awal agar mereka tidak hanya mengandalkan latihan di kampus, tetapi juga bergabung dengan klub.”
Filosofi ini menjadi pondasi penting dalam meningkatkan kualitas pemain. “Saya selalu menekankan, kalau ingin bersaing, latihan tidak boleh hanya di UIN. Mereka harus punya klub. Ada yang main di Liga Bandung, Linus, dan berbagai klub lokal seperti MKB, DKRC, AP7, sampai NFC Cicalengka,” jelasnya.
Dalam proses seleksi dan menjaga kualitas pemain, Kang Deden menerapkan kultur yang objektif. “Saya bangun kultur yang objektif. Siapa yang paling komitmen, paling siap secara fisik dan performa, itulah yang dipilih. Anak-anak ini benar-benar gila latihan. Mereka ingin terus meng-upgrade permainan,” katanya.
Selain itu, kolaborasi dengan pelatih klub lokal juga menjadi kunci. “Plus, saya cukup dekat dengan para pelatih klub di Bandung. Kami sering berdiskusi, bertukar pikiran soal pemain dan taktikal. Jadi pelatih berkembang, pemain berkembang, dan tujuannya satu: mengembangkan potensi anak-anak,” ungkap Kang Deden.
Pola Latihan dan Evaluasi Menuju Puncak
Pola latihan di UINSGD dirancang sebagai puncak dari proses pembinaan yang lebih luas. “Latihan di UINSGD itu sebenarnya puncak dari proses pembinaan. Ada pemain semester akhir, sisanya masih kami matangkan untuk level nasional. Frekuensi latihan dua sampai tiga kali seminggu, tergantung agenda kompetisi,” papar Kang Deden.
Pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran berharga. “Kami sempat juara regional Bandung lewat Fakultas Syariah dan Hukum. Dari situ saya dapat gambaran seperti apa level nasional. Meski sempat gagal di nasional, itu jadi pelajaran penting. Saya tidak mau gagal lagi, makanya saya mengajak Coach Sofyan bergabung. Kami punya chemistry dan bisa saling melengkapi,” tambahnya.
Campus League Futsal: Etalase Prestasi dan Masa Depan Atlet
Kang Deden memandang Campus League Futsal sebagai ajang yang sangat serius dan strategis. “Campus League Futsal ini serius. Aturannya ketat, kemasan medianya besar, dan atmosfernya nasional. Ini jadi momentum UINSGD untuk tampil dan menunjukkan kualitas. Anak-anak paham ini bukan turnamen biasa,” tegasnya.
Dampak positif ajang ini juga dirasakan langsung oleh para atlet. “Alhamdulillah juga berkat ajang ini, prestasi atlet diperhatikan. Saat final bahkan ditayangkan di TV nasional, pimpinan kampus ikut hadir. Itu jadi motivasi besar. Kami juga selalu diingatkan untuk memanfaatkan momentum ini dengan baik,” ujarnya.
Setelah kesuksesan di Campus League, target utama Kang Deden adalah menaikkan level permainan tim. “Targetnya jelas, menaikkan level permainan. Standar futsal Bandung sudah tinggi. Saya berharap dengan sorotan media, anak-anak bisa membuka jalan ke Liga Pro, tim nasional, atau minimal punya nilai jual di dunia kerja,” harapnya.
Dukungan dari alumni yang telah berkarier di Liga Pro juga menjadi motivasi tambahan. “Ada juga alumni yang sudah main di Liga Pro sering datang memberi motivasi. Kami sinergi. Tujuan kami bukan hanya mencetak pemain hebat, tapi juga memastikan mereka punya masa depan, kuliah, gelar, dan peluang kerja,” pungkas Kang Deden.
Kang Deden berharap Campus League Futsal terus ditingkatkan kualitasnya dan menjadi agenda utama futsal kampus. “Untuk pemain, semoga mereka bisa membela almamater dengan maksimal. Sebab, dengan begitu, akan membuka peluang ke level profesional, Timnas, maupun dunia kerja. Campus League Futsal ini bisa menjadi etalase prestasi mereka, tak terkecuali bagi para pemain UINSGD,” tutupnya.






