Internasional

Tujuh Negara Amerika Latin yang Pernah Jadi Sasaran Intervensi Politik Amerika Serikat

Sejarah mencatat sepak terjang (AS) dalam menggoyahkan pemerintahan di sejumlah negara . Intervensi ini, yang sebagian besar didalangi oleh Badan Intelijen Pusat (CIA), telah berlangsung sejak era Perang Dingin pada dekade 1950-an hingga 1970-an.

Pada awalnya, dalih utama AS adalah untuk membendung penyebaran komunisme di kawasan tersebut. Namun, setelah runtuhnya komunisme global, alasan intervensi bergeser menjadi upaya memerangi peredaran narkotika. Catatan Mureks menunjukkan, berbagai operasi rahasia dan dukungan terhadap kelompok oposisi telah menyebabkan perubahan rezim di beberapa negara. Berikut adalah sejumlah negara yang pernah menjadi target intervensi AS:

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

  • Guatemala (1954)
  • Republik Dominika (1961)
  • Guyana (1964)
  • Brasil (1964)
  • Chile (1973)
  • Nikaragua (1979)
  • Kuba (1961)

Guatemala (1954)

Pada tahun 1954, CIA melancarkan kudeta untuk menggulingkan Presiden Jacobo Árbenz. Árbenz, yang menganut paham sosialis dan terpilih secara demokratis, dianggap mengancam kepentingan perusahaan AS, seperti United Fruit Company, melalui kebijakan reformasi agrarianya. Operasi rahasia yang diberi sandi “PBSUCCESS” ini berhasil memaksa Árbenz mundur pada 27 Juni 1954. Ia kemudian digantikan oleh junta militer pimpinan Carlos Castillos Armas, yang dinilai lebih mudah dikendalikan oleh Washington.

Republik Dominika (1961)

Presiden Rafael Trujillo, yang dikenal sebagai “El Jefe” dan merupakan seorang diktator, tewas dalam sebuah operasi yang melibatkan pihak oposisi pada 30 Mei 1961. Operasi pembunuhan ini juga melibatkan CIA. Menariknya, Trujillo sebenarnya adalah sahabat AS, bahkan pernah bergabung dengan Garda Nasional pada tahun 1919 dan berlatih dengan Marinir AS. Dalam laman Association for Diplomatic Studies dan Training, Henry Dearborn, yang saat itu menjabat Kepala Misi dan Konsul Jenderal di Dominika, mengaku telah menjalin komunikasinya dengan pihak oposisi, peristiwa malam yang fatal itu, dan pengarahan yang diterimanya dari Presiden Jhon Kennedy setelahnya.

Guyana (1964)

Kekhawatiran akan munculnya “Kuba Komunis” lainnya di Amerika Latin mendorong Presiden John F. Kennedy menyetujui operasi rahasia CIA pada tahun 1964. Operasi ini bertujuan memanipulasi pemilihan nasional di Guyana Britania, yang kala itu masih menjadi koloni Inggris. Intelijen AS menyimpulkan bahwa Perdana Menteri Cheddi Jagan, salah satu kandidat presiden utama, adalah seorang komunis, meskipun belum tentu berada di bawah pengaruh Moskow. Kennedy memutuskan Jagan harus disingkirkan dan mendesak London untuk bekerja sama. Penggulingan Jagan dilakukan melalui serangkaian aksi pemogokan dan destabilisasi.

Brasil (1964)

CIA juga memberikan dukungan terhadap kudeta militer yang menggulingkan Presiden João Goulart di Brasil. Kudeta ini berlangsung dari tanggal 31 Maret hingga 1 April 1964, didahului oleh aksi demonstrasi besar-besaran serta ketidakstabilan ekonomi dan politik, termasuk inflasi yang melambung hingga 100 persen. Goulart, yang berada di bawah tekanan militer dan kelompok masyarakat sipil, akhirnya menyerah. Peristiwa ini mengakhiri Republik Brasil Keempat dan mengawali era kediktatoran militer selama 21 tahun.

Chile (1973)

Presiden Chile Salvador Allende, seorang pemimpin berhaluan sosialis yang terpilih secara demokratis, tidak disukai oleh AS. CIA kemudian memainkan peran penting dalam menciptakan ketidakstabilan ekonomi dan politik di negara tersebut. Upaya ini berujung pada kudeta militer yang dipimpin oleh Augusto Pinochet. Setelah kudeta, Pinochet mengambil alih kekuasaan dan memimpin era kediktatoran militer di Chile.

Nikaragua (1979)

Ketika Presiden Nikaragua Samoza digulingkan pada tahun 1979, kelompok yang menamakan diri “Sandinista” berhasil naik ke tampuk kekuasaan. Namun, kelompok ini dikenal sangat anti-imperialisme, terutama terhadap AS. Menanggapi hal tersebut, CIA turun tangan dengan membentuk dan mendukung pasukan “Contra” untuk melawan pemerintahan Sandinista yang berhaluan kiri. Konflik ini memicu perang saudara bertahun-tahun. Sandinista akhirnya kalah dalam pemilu 1990. Meskipun demikian, pada tahun 2007, Presiden Daniel Ortega, yang juga pemimpin Sandinista, kembali berkuasa hingga saat ini, dan keberadaannya terus dikritik oleh AS.

Kuba (1961)

Salah satu operasi penggulingan kekuasaan oleh CIA di Amerika Latin yang paling terkenal adalah invasi Teluk Babi di Kuba pada tahun 1961. Operasi ini, yang bertujuan menggulingkan Presiden Fidel Castro, melibatkan orang-orang Kuba yang telah dilatih dan didanai AS, terinspirasi dari keberhasilan operasi di Guatemala. Namun, operasi ini bocor dan berhasil dihalau oleh pasukan Kuba dari udara, menyebabkan kegagalan memalukan bagi AS. Kegagalan ini justru memperkuat posisi Castro, yang memang tidak disukai AS karena kebijakan nasionalisasi ratusan perusahaan AS. Setahun sebelumnya, Castro telah habis-abisan menyerang kebijakan imperialisme AS dalam pidato berapi-api. Meskipun AS, melalui CIA, telah berusaha keras menjatuhkan Castro lewat embargo ekonomi dan pembentukan oposisi, semua upaya tersebut gagal.

Mureks