Tren

Tompi: “Emang Sanggup Mau Gaj in Sy Brp?” Balas Tudingan Bela Gibran Demi Jabatan

Dokter sekaligus musisi Tompi menjadi sorotan publik setelah merespons tudingan warganet yang menyebutnya membela Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka demi mengincar jabatan tertentu. Jawaban singkat namun menohok dari Tompi ini kemudian viral di berbagai platform media sosial.

Polemik ini bermula ketika Tompi memberikan pandangannya terkait pertunjukan stand-up comedy tunggal bertajuk “Mens Rea” oleh Pandji Pragiwaksono. Dalam pertunjukan tersebut, Pandji diduga menyindir fisik Gibran Rakabuming Raka.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Menurut Tompi, candaan yang menyinggung kondisi fisik bukanlah bentuk kritik yang cerdas. Sikap ini justru memicu sebagian netizen menuding Tompi memiliki misi tersembunyi. Salah satu warganet bahkan secara langsung melontarkan pertanyaan bernada sindiran.

“Dokter termul mau jabatan apa?” tanya seorang netizen kepada Tompi, seperti dikutip dari unggahan Instagram Story @dr_tompi pada Selasa, 6 Januari 2026.

Tak tinggal diam, Tompi memberikan respons tegas dan tanpa basa-basi. “Emang sanggup mau gaj in sy brp? Jenis sampah bgini banyak,” jawab Tompi menohok, yang kemudian menjadi perbincangan hangat.

Kontroversi semakin memanas setelah Tompi mengunggah potret kebersamaannya dengan Gibran Rakabuming Raka serta beberapa rekan sejawat. Unggahan tersebut disertai keterangan bernada candaan yang semakin menyita perhatian publik. “Komisaris atau dirut pertamina ya ? Coba cocoknya apaa @melaney_ricardo,” tulisnya.

Sebelumnya, Tompi memang telah angkat bicara terkait sindiran terhadap fisik Gibran. Dalam keterangannya, Tompi menekankan bahwa menjadikan kondisi tubuh sebagai bahan lelucon bukanlah hal yang pantas, terutama jika dilihat dari sudut pandang medis.

Kritik Fisik Bukan Kecerdasan

“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas. Apa yang terlihat “mengantuk” pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON,” tegas Tompi.

Tompi juga menegaskan bahwa kritik tetap sah dilakukan, namun harus pada hal yang relevan dan konstruktif. “Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” lanjutnya.

Menurut pantauan Mureks, Tompi berpandangan bahwa ruang publik seharusnya diisi dengan diskusi yang bermutu, bukan dengan merendahkan kondisi fisik seseorang.

Mureks