Kesuksesan gemilang Clair Obscur: Expedition 33 telah menempatkan pengembangnya, Sandfall Interactive, di bawah sorotan tajam. Setelah meraih pujian kritis dan penghargaan, studio asal Prancis ini kini menghadapi tekanan besar dalam mengembangkan proyek game berikutnya, namun bertekad untuk tetap setia pada visi kreatif mereka.
Game RPG tersebut, yang dirilis pada tahun 2025, menerima ulasan yang hampir seluruhnya positif, menyapu berbagai penghargaan, dan bahkan mendapatkan dua pujian publik langsung dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Prestasi ini menandai akhir dari satu babak yang luar biasa bagi Sandfall Interactive.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
François Meurisse, Chief Operating Officer dan Production Director Sandfall Interactive, mengungkapkan proses pemikiran di balik pengembangan game selanjutnya dalam wawancara dengan majalah Edge edisi 419, seperti dikutip dari GamesRadar. “There is a bit of pressure” dari penggemar dan kritikus terkait game tim berikutnya, namun “it’s not so important to us,” jelas Meurisse. Ia menambahkan, “We have time to get really focused on the next game. We have some great ideas we’re so excited to explore, and we don’t start from the same point. The team already has five more years of experience. So maybe we can do some great stuff.”
Menurut pantauan Mureks, meskipun tidak ada jaminan bahwa game berikutnya akan lebih baik atau memenuhi ekspektasi, Sandfall Interactive telah membuktikan kemampuannya untuk menciptakan karya yang luar biasa. Studio ini berhasil meyakinkan banyak pihak bahwa sistem parrying dalam game bisa sangat menyenangkan.
Namun, proses pembuatan game kedua Sandfall Interactive dipastikan akan berbeda dari yang pertama, terutama karena studio ini kini memiliki reputasi dan basis penggemar yang antusias. Fakta ini tidak luput dari perhatian penulis utama, Jennifer Svedberg-Yen. “[I’m] a bit of a people pleaser, so it’s always in the back of my mind that we have a lot of fans now, and they have certain expectations and certain feelings towards the game. I’d be lying if I said that I didn’t think about that at all.”
Meskipun dibebani ekspektasi, para pengembang tampaknya berencana untuk tetap teguh pada otonomi kreatif mereka. “Creatively, we’ve always let our North Star be our own personal taste in terms of what we think is cool, what it is we enjoy and want to see,” kata Svedberg-Yen. “I’ve seen too many TV shows and books be swayed trying to please a lot of people, and in the process, you end up losing the heart of what’s there. So [we] feel like we need to trust our instincts and continue to trust the vision behind the studio.”






