Tren

Sabalenka Sesalkan Sorotan Negatif, Tegaskan ‘Battle of the Sexes’ Angkat Popularitas Tenis

BRISBANE, AUSTRALIA – Petenis peringkat satu dunia, Aryna Sabalenka, menyatakan kesedihannya atas sorotan negatif yang menyertai laga ekshibisi “Battle of the Sexes” melawan Nick Kyrgios. Meski demikian, Sabalenka menegaskan pertandingan tersebut berhasil “membawa begitu banyak perhatian” ke olahraga tenis.

Laga yang digelar di Dubai pada akhir Desember lalu itu berakhir dengan kekalahan Sabalenka 3-6, 3-6 dari Kyrgios. Pertandingan tersebut memicu perhatian luas, namun juga menuai kritik karena dinilai lebih berorientasi pada rating siaran dan keuntungan finansial. Menurut pantauan Mureks, duel ini diselenggarakan oleh agensi yang menaungi kedua pemain.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Sabalenka: Bukan Soal Pembuktian

Berbicara di ajang pembuka musim, Brisbane International, pada Selasa (6/1) waktu setempat, Sabalenka mengungkapkan perasaannya. “Yang membuat saya sedih adalah beberapa orang salah memahami ide dari acara ini,” ujarnya.

Petenis asal Belarusia itu menambahkan, “Itu menyenangkan. Tantangan yang hebat. Saya pikir kami membawa begitu banyak mata tertuju ke tenis.”

Sabalenka menekankan bahwa pertandingan tersebut tidak bertujuan untuk membuktikan superioritas siapa pun. “Ini bukan soal membuktikan apa pun. Ini tentang menunjukkan bahwa tenis bisa sangat besar dan mampu menarik perhatian luas pada sebuah laga ekshibisi, sesuatu yang biasanya tidak terjadi. Dan kami membuktikannya. Itu saja tujuannya,” jelasnya.

Kontroversi dan Perbandingan Sejarah

Pernyataan Sabalenka ini muncul setelah petenis peringkat dua dunia, Iga Swiatek, pada Sabtu sebelumnya menyatakan bahwa tenis putri tidak memerlukan laga semacam itu. “Karena saya merasa tenis putri sudah berdiri dengan kuat saat ini,” kata Swiatek.

Perdebatan juga mencuat terkait kelayakan Nick Kyrgios sebagai representasi tenis putra dalam pertandingan tersebut. Petenis Australia itu diketahui pernah mengakui melakukan penyerangan terhadap mantan kekasihnya pada tahun 2021 dan sebelumnya juga harus mengambil jarak dari sejumlah pernyataan yang dinilai misoginis.

Laga ekshibisi pada 28 Desember tersebut menggunakan aturan yang dimodifikasi untuk menyeimbangkan perbedaan fisik antara kedua pemain. Namun, duel ini dinilai jauh berbeda dengan “Battle of the Sexes” legendaris tahun 1973 antara Billie Jean King dan Bobby Riggs. Pada era tersebut, taruhannya jauh lebih besar, di mana tur profesional tenis putri yang baru dirintis King tengah berjuang mendapatkan legitimasi dan kesetaraan hadiah. King, yang saat itu berada di puncak performa, berhasil mengalahkan Riggs yang berusia 55 tahun dalam tiga set, sebuah kemenangan ikonik yang meninggalkan jejak sejarah bagi tenis putri.

Mureks