Olahraga

Ruben Amorim: “Saya Manajer, Bukan Pelatih!” Kritik Intervensi Manajemen Manchester United

Ketegangan di internal Manchester United semakin mencuat ke permukaan setelah manajer Ruben Amorim secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap hierarki klub. Amorim menuntut kebebasan penuh dalam menjalankan tugasnya tanpa intervensi pihak luar, menyusul hasil imbang 1-1 melawan Leeds United pada Minggu (4/1).

Pria asal Portugal itu menegaskan bahwa dirinya datang ke Old Trafford untuk menjadi seorang “manajer”, bukan sekadar “pelatih” yang hanya mengurusi taktik di lapangan. Pernyataan ini mengindikasikan adanya friksi serius terkait pembagian peran dan wewenang di tubuh klub.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

“Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan pelatih. Semua departemen, mulai dari pemandau bakat hingga direktur olahraga, harus menjalankan tugasnya masing-masing. Saya akan melakukan bagian saya selama 18 bulan, lalu kita lihat kelanjutannya,” tegas Amorim, seperti dikutip dari BBC.

Penyebutan “18 bulan” merujuk pada sisa kontraknya. Mureks mencatat bahwa pernyataan tersebut secara tersirat menunjukkan kesiapan Amorim untuk hengkang jika visi dan otoritasnya terus diganggu oleh figur-figur senior di jajaran manajemen klub.

Amorim ditengarai gerah dengan campur tangan petinggi klub terkait kebijakan teknis. Hubungannya dengan Direktur Sepak Bola, Jason Wilcox, dan Kepala Rekrutmen, Christopher Vivell, dikabarkan merenggang. Sumber internal menyebutkan adanya tekanan agar Amorim mengubah skema tiga bek andalannya demi mengakomodasi tradisi bermain United yang identik dengan pemain sayap.

Kritik dari para legenda klub seperti Gary Neville dan Paul Scholes juga menambah panas atmosfer di Carrington. Namun, Amorim justru meminta pihak klub untuk lebih tebal telinga terhadap kritik eksternal.

“Jika orang-orang di sini tidak bisa menangani kritik dari Gary Neville, maka kita perlu mengubah kultur klub ini,” kata Amorim, menyoroti perlunya mentalitas yang lebih kuat di klub.

Meski saat menandatangani kontrak ia diumumkan sebagai ‘head coach’ (pelatih kepala) untuk menggantikan Erik ten Hag, Amorim bersikeras bahwa ia memiliki bobot otoritas yang sama dengan nama-nama besar seperti Jose Mourinho atau Antonio Conte. Ia menolak untuk mundur dari prinsipnya.

“Nama saya memang bukan Tuchel, Conte, atau Mourinho, tapi saya adalah manajer Manchester United. Saya tidak akan mundur. Saya akan melakukan pekerjaan saya sampai klub memutuskan untuk mendatangkan orang lain,” tambahnya, menegaskan komitmennya terhadap peran yang ia yakini.

Mureks