Manajer Manchester United, Ruben Amorim, dikenal irit bicara. Namun, keheningannya belakangan ini justru mengungkap banyak hal, terutama terkait dugaan keretakan di balik layar Old Trafford.
Amorim secara konsisten menghindari pertanyaan seputar formasi 3-4-3, anggaran transfer, dan peran dewan direksi. Menurut Mureks, sikap ini merupakan pertanda jelas adanya ketidakselarasan di balik layar klub raksasa Inggris tersebut.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Sistem Amorim dan Pintu-pintu yang Tertutup
Amorim tiba di Manchester United dengan reputasi sebagai pelatih yang memiliki sistem permainan yang sangat jelas. Formasi 3-4-3 bukan sekadar diagram taktik, melainkan identitas yang melekat padanya. Sistem ini menuntut bek tengah yang piawai mengontrol ruang, bek sayap yang mampu terus bergerak naik turun lapangan, serta pemain nomor 10 yang serbaguna di belakang para striker.
Namun, masalahnya adalah skuad Manchester United saat ini tidak dibangun untuk mendukung struktur tersebut. Setelah beberapa bulan, Amorim mulai mengakui realitas yang seharusnya ia sadari lebih awal. Pernyataannya, “untuk memainkan formasi 3-4-3 yang sempurna, kita membutuhkan banyak uang dan waktu,” bukan hanya komentar profesional biasa. Itu adalah sebuah peringatan, cara paling halus dalam bahasa para manajer sepak bola untuk mengatakan: Saya tidak memiliki cukup alat.
Ketika Amorim terpaksa beralih ke formasi 4-2-3-1 saat melawan Newcastle, lalu kembali ke 3-4-3 saat menghadapi Wolves, itu bukanlah eksperimen taktik biasa. Itu adalah pergumulan nyata antara keyakinan sang manajer dan kenyataan di lapangan.
Di Balik Keheningan Amorim di Manchester United
Di tengah persaingan taktik ini, ada sosok Jason Wilcox, Direktur Sepak Bola Manchester United. Wilcox dikenal dengan preferensinya terhadap formasi 4-3-3, sebuah sistem yang telah membawa dominasi bagi Manchester City. Fakta bahwa Wilcox dan Amorim “berkomunikasi setiap hari” memang terdengar positif, namun bisa juga mencerminkan negosiasi diam-diam: manajer ingin mempertahankan identitasnya, sementara klub menginginkan fleksibilitas.
Ketika Amorim menolak menjawab pertanyaan tentang anggaran atau diskusi internal, saat itulah ceritanya tidak lagi sesederhana itu. Pada kenyataannya, Manchester United tidak memiliki kebiasaan untuk melakukan “rombak total dan membangun kembali” tim sesuai filosofi manajer. Mereka cenderung merekrut pemain berdasarkan peluang pasar, nilai komersial, atau kebutuhan mendesak.
Di sisi lain, Amorim membutuhkan pemain yang tepat untuk peran yang tepat pada waktu yang tepat. Jika hal itu tidak terjadi, adaptasi menjadi satu-satunya pilihan agar ia tidak menempatkan dirinya dalam posisi konfrontatif dengan klub. Cedera dan absennya sejumlah pemain kunci, mulai dari Bruno Fernandes dan Mason Mount hingga Mainoo dan De Ligt, hanyalah puncak gunung es. Hal itu menjelaskan mengapa Amorim harus mengubah formasinya, tetapi tidak menjelaskan mengapa ia begitu pesimis tentang jendela transfer Januari.
Ketika seorang manajer mengatakan bahwa “tidak ada diskusi” tentang transfer pemain, itu biasanya merupakan tanda ketidakberdayaan daripada strategi. Kisah Antoine Semenyo semakin memperjelas gambaran ini. Manchester United tertarik, klausul pelepasannya sudah siap, tetapi sang pemain lebih memilih Manchester City. Ini menunjukkan bahwa MU tidak hanya kekurangan uang dan waktu, tetapi juga daya tarik taktis yang jelas.
Seorang pemain menyerang akan memilih sistem di mana ia tahu dirinya cocok, bukan sistem di mana manajer masih berjuang untuk beradaptasi dan mempertahankan identitasnya. Amorim pernah mengatakan kepada para pemain bahwa “akan ada perubahan.” Kini, perubahan itu bukan hanya di lapangan, tetapi juga dalam pola pikirnya sendiri.
Fakta bahwa eksperimen dengan formasi pertahanan empat pemain dapat berlanjut bahkan dengan skuad penuh menunjukkan bahwa Amorim telah memahami satu hal penting: di Manchester United, sistem bukanlah titik awal, melainkan hasil dari kompromi. Masalahnya adalah MU sudah terlalu familiar dengan kompromi semacam itu. Dari Ten Hag hingga Amorim, dari pressing yang kacau hingga kontrol yang teratur, klub ini secara konsisten memaksa para manajer untuk beradaptasi dengan status quo.
Harga yang harus dibayar adalah tidak ada yang pernah sampai pada kesimpulan yang sama. Amorim masih punya waktu. Tetapi jika “adaptasi” yang dilakukannya hanya melibatkan perubahan formasi tanpa konsensus dari manajemen puncak, maka itu hanyalah solusi sementara. Manchester United tidak kekurangan pelatih dengan ide-ide bagus. Mereka kekurangan keberanian untuk membangun tim yang benar-benar mencerminkan ide tertentu. Dan itulah keretakan terbesar di balik layar di Old Trafford.






