Pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink, dan gelandang Ricky Kambuaya melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan wasit Erpan Efendi usai pertandingan melawan Bhayangkara FC. Laga yang berlangsung di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, pada Senin (5/1) sore itu berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk tuan rumah.
Pertandingan tersebut diwarnai oleh keputusan kontroversial wasit yang mengeluarkan dua kartu merah dan total 10 kartu kuning. Kartu merah diberikan kepada Wahyu Subo Seto pada menit ke-51 dan Rafael Struick di masa injury time babak kedua. Gol semata wayang Bhayangkara FC dicetak oleh Fareed Sadat.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Kritik Pedas dari Riekerink dan Kambuaya
Seusai pertandingan, Riekerink tidak menahan diri dalam menyampaikan kekecewaannya terhadap Erpan Efendi. Menurutnya, wasit kurang bijak dalam mengelola jalannya pertandingan yang berlangsung keras.
“Pertandingan ditentukan setelah 30 detik. Ketika itu Messidoro ditendang lawan. Dia mencoba terus bermain, tetapi harus keluar lebih dahulu. Setelah 6-7 pelanggaran baru ada kartu. Kalau tidak ada kepemimpinan di dalam lapangan, bakal susah pertandingan. Lawan juga main dengan fisik dan mereka dapat privilege [keistimewaan] dapat main fisik,” ujar Riekerink, seperti yang dicatat oleh tim redaksi Mureks.
Pelatih asal Belanda itu juga menyoroti kondisi lapangan Stadion Sumpah Pemuda yang dinilainya buruk. Kondisi tersebut, menurut Riekerink, sangat menyulitkan para pemain Dewa United untuk menampilkan permainan terbaik mereka.
Senada dengan sang pelatih, Ricky Kambuaya juga menyuarakan keluhannya. Pemain Timnas Indonesia ini merasa bahwa wasit tidak mampu memimpin laga dengan baik, dan ia berharap ada perbaikan signifikan di masa mendatang demi kemajuan sepak bola nasional.
“Sebagai pemain sepak bola dan pemain Timnas, saya hanya ingin bermain sepak bola dengan baik. saya ingin berkembang. Saya tidak ingin ketinggalan dengan sepak bola modern,” kata Kambuaya.
Ia menambahkan, “Sepak bola butuh pengadil, kami butuh orang-orang tua yang bimbing kita untuk kita berkembang, tetapi kalau pengadil tidak jadi pengadil saya pikir kita tidak akan pernah berkembang.”






