Istilah “vibe coding” yang dinobatkan sebagai kata tahun ini oleh Collins Dictionary bulan lalu, menandai tonggak penting bagi kecerdasan buatan (AI). Aplikasi AI yang dulunya bersifat khusus atau spesifik sektor, kini telah benar-benar menjadi arus utama dalam berbagai bidang.
Awalnya, istilah ini diciptakan oleh salah satu pendiri OpenAI, Andrej Karpathy, untuk menggambarkan proses pengkodean melalui keluaran bahasa alami, bukan bahasa pengembangan tradisional. Konsep ini telah menginspirasi para pemimpin di berbagai industri untuk menerapkan “perlakuan vibe” AI pada proses kerja mereka.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Prinsip Inti AI dalam Penjualan
Menurut Eilon Reshef, Co-Founder dan Chief Product Officer di Gong, prinsip inti yang sama berlaku saat melihat bagaimana AI dapat mendukung berbagai jenis pekerja dan tim. Ini adalah tentang menyerahkan pekerjaan repetitif kepada AI. Baik itu tugas penelitian atau menganalisis kumpulan data besar, tujuannya adalah agar manusia mengarahkan tindakan, bukan menghabiskan waktu untuk tugas-tugas remeh itu sendiri.
Meluasnya peran AI dalam dunia bisnis berarti semakin banyak tugas yang dapat mengalami transformasi serupa dengan penulisan kode. Salah satu area paling menarik dan praktis di mana hal ini terjadi saat ini adalah di sektor penjualan.
Mengenal ‘Vibe Selling’
“Vibe selling” bukanlah sekadar penjual yang “mengobrol dengan mesin”, atau hanya mendelegasikan tugas kepada agen otonom. Sebaliknya, ini adalah tentang berinteraksi dengan AI secara dinamis dan berulang, berinteraksi berkali-kali hingga hasilnya sesuai.
Para penjual menggunakan AI untuk mengambil alih tugas-tugas yang memakan waktu dan memperlambat mereka saat ini. Tugas-tugas tersebut meliputi menyusun email, meneliti akun, dan menganalisis percakapan. Dengan demikian, mereka dapat fokus pada hal yang paling penting: penjualan yang sebenarnya.
Secara tradisional, penjual harus menangani tugas-tugas ini sendiri untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Namun, meskipun penting, tugas-tugas ini sering kali menjauhkan penjual dari aktivitas yang benar-benar mendorong pendapatan, yaitu membangun hubungan dan menutup kesepakatan, yang menuntut sentuhan pribadi dan manusiawi.
Dampak Nyata dan Kolaborasi AI
“Vibe selling” mengubah dinamika ini. Dengan menanamkan AI langsung ke dalam alur kerja, penjual dapat menyerahkan tugas-tugas repetitif tersebut kepada alat cerdas yang menghasilkan wawasan, menyiapkan materi, dan menandai peluang secara real time. Hal ini membebaskan penjual untuk melakukan apa yang terbaik dilakukan manusia, yaitu terhubung dengan pelanggan, mendapatkan kepercayaan mereka, dan menutup lebih banyak kesepakatan.
Setiap pergeseran teknologi menghasilkan bagiannya dari kata kunci, tetapi “vibe selling” bukan sekadar sensasi. Ini sudah menghasilkan hasil yang terukur untuk tim penjualan. Alih-alih secara manual menyisir catatan panggilan atau rantai email, seorang representatif dapat langsung melihat pesan mana yang beresonansi, pesaing mana yang disebutkan, dan di mana kesepakatan mungkin terhenti (dan mengapa).
Manajer mendapatkan visibilitas ke pola di seluruh tim secara bersamaan, sementara representatif mendapatkan rekomendasi praktis tentang cara memajukan kesepakatan mereka. Penjual tidak hanya menghemat waktu, mereka juga membuat keputusan yang lebih baik dengan AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati. Catatan Mureks menunjukkan, data dari Gong Labs dalam laporan State of Revenue AI terbaru mengungkapkan bahwa penjual yang didukung AI mampu mendorong pendapatan 77% lebih tinggi per representatif.
Sentuhan Manusia Tetap Krusial
Meskipun AI dapat dengan cepat memunculkan wawasan dan bahkan menghasilkan pesan, AI belum mampu menutup kesenjangan kepercayaan. Hal ini tetap krusial seperti biasa untuk menutup kesepakatan. Penjualan, pada intinya, tetap merupakan pekerjaan manusia. Kesepakatan perusahaan bahkan lebih lagi.
Pembeli tidak menandatangani kontrak hanya karena frasa yang sempurna atau penelitian yang kuat. Mereka menandatangani karena mereka percaya pada penjual, mempercayai keahlian mereka, dan merasa yakin solusi yang ditawarkan akan memberikan hasil. AI dapat mempercepat proses itu, tetapi tidak dapat memimpinnya. Itulah mengapa “vibe selling” harus dilihat sebagai alat penting dalam perlengkapan penjual, bukan pengganti.
Pada akhirnya, AI harus meletakkan dasar, sementara manusia membawa kecerdasan emosional dan nuansa yang menyegel kesepakatan. Kita masih dalam tahap awal membiarkan AI mengambil peran penting, tetapi lintasannya jelas. Sama seperti “vibe coding” mengubah cara pengembang mendekati pekerjaan mereka, “vibe selling” mengubah cara bisnis menjangkau pelanggan dan mendorong pertumbuhan pendapatan.
Dengan mengotomatiskan tugas-tugas yang menghalangi penjual untuk benar-benar menjual, AI tidak menggantikan mereka, melainkan membuat mereka menjadi lebih baik. Masa depan bisnis tidak akan ditentukan oleh mereka yang menolak revolusi teknis ini, tetapi oleh mereka yang belajar menyalurkannya dengan cara yang benar. Pada akhirnya, kesepakatan paling kuat tidak akan ditutup oleh AI saja atau manusia saja, tetapi oleh perpaduan keduanya.






