Musim Formula 1 (F1) 2026 akan menjadi lembaran baru bagi seluruh tim, termasuk Red Bull Racing. Regulasi anyar terkait unit daya dan sasis membuka peluang besar bagi setiap konstruktor untuk memulai dari nol. Pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana tim yang bermarkas di Milton Keynes ini akan memanfaatkan kesempatan tersebut, dan keputusan yang diambil akan menjadi salah satu narasi paling menarik sepanjang musim.
Dalam beberapa musim terakhir, Red Bull, peraih enam gelar juara konstruktor F1, secara konsisten mengembangkan mobilnya dengan mengikuti preferensi spesifik Max Verstappen. Pendekatan ini terbukti sangat efektif, mengantarkan Verstappen meraih dua gelar juara dunia pada 2022 dan 2023, serta total empat gelar pembalap untuk dirinya sendiri. Namun, menurut Mureks, strategi ini juga mulai menunjukkan konsekuensinya. Meskipun Verstappen berhasil mempertahankan gelar juara pada 2024, ia tidak mampu sendirian menjaga tim di puncak klasemen konstruktor, yang pada akhirnya menempatkan Red Bull di posisi ketiga tahun lalu.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Sejak kepergian Daniel Ricciardo ke Renault, sejumlah rekan setim Verstappen kesulitan beradaptasi dengan karakteristik unik mobil Red Bull. Mobil tersebut cenderung oversteer dan beroperasi pada batas ekstrem, sesuai dengan gaya mengemudi Verstappen. Nama-nama seperti Pierre Gasly, Alex Albon, Sergio Perez, Liam Lawson, dan Yuki Tsunoda adalah beberapa pembalap yang gagal menemukan kenyamanan dengan konfigurasi tersebut.
Dengan Laurent Mekies kini mengambil alih posisi Christian Horner sebagai pemimpin tim, muncul spekulasi apakah pria asal Prancis ini akan memilih untuk mengubah arah pengembangan. Momen awal siklus regulasi baru ini adalah kesempatan terbaik untuk melakukan perubahan signifikan, terlebih lagi Verstappen akan memiliki rekan setim baru, Isack Hadjar.
Namun, setiap arah pengembangan yang dipilih Red Bull akan membawa konsekuensinya sendiri. Jika tim tetap mempertahankan pendekatan yang ada, hasil serupa dengan musim-musim sebelumnya dapat diperkirakan. Hadjar, yang baru berusia 21 tahun, mungkin memiliki potensi untuk lebih mudah menyesuaikan diri dengan preferensi ekstrem Verstappen dibandingkan para pendahulunya. Namun, gaya mengemudi pemenang 71 grand prix itu memang sangat unik dan menuntut.
Di sisi lain, mengambil pendekatan pengembangan yang lebih netral mungkin akan lebih menguntungkan bagi Hadjar, namun berisiko tidak memaksimalkan potensi penuh Verstappen. Opsi ketiga, yaitu secara eksplisit mengorbankan Verstappen demi membantu Hadjar tampil maksimal, tampaknya menjadi pilihan yang paling tidak mungkin. Dengan berbagai pertimbangan ini, tim redaksi Mureks mencatat bahwa keputusan mengenai bagaimana Red Bull akan mengembangkan mobil barunya, yang kemungkinan akan diberi nama RB22, akan sangat krusial.






