Memasuki tahun 2026, lanskap konsumsi konten di Indonesia terus bergeser. Lonjakan signifikan pada layanan streaming dan TV digital telah mengubah standar ruang keluarga, namun tantangan klasik masih membayangi: kesenjangan antara perangkat layar besar beresolusi tinggi dengan ketersediaan konten lokal yang mayoritas masih dalam format standar.
Menjawab tantangan tersebut, Presiden Samsung Electronics Indonesia, Harry Lee, menegaskan bahwa kunci utama masa depan pasar televisi (TV) bukan lagi sekadar panel layar, melainkan kecerdasan buatan (AI) melalui teknologi Vision AI.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Dalam sesi wawancara eksklusif di Jakarta pada Senin (5/1/2026), Harry Lee mengungkapkan bahwa Samsung telah memposisikan diri sebagai pionir dalam teknologi AI. Strategi ini diambil untuk memastikan konsumen di Indonesia dapat menikmati kualitas visual premium, terlepas dari resolusi asli konten yang mereka saksikan. Harry Lee menyoroti bahwa kualitas gambar dipengaruhi oleh variabel kompleks, bahkan mencakup stabilitas daya listrik atau voltase.
“Kualitas konten streaming dan resolusi itu sangat jelas, terutama dalam konteks Indonesia. Bahkan perbedaan voltase listrik juga akan mempengaruhi kualitas gambar. Itu sebabnya Vision AI menjadi teknologi utama kami,” ujar Harry Lee.
Lee menjelaskan, Vision AI Samsung bekerja dengan mengumpulkan berbagai data input secara real-time. Teknologi ini tidak hanya melihat resolusi konten asli, tetapi juga mendeteksi kondisi kecerahan ruangan (brightness), kontras, hingga fluktuasi teknis pada perangkat. “Semua data tersebut diolah untuk menghasilkan output visual yang optimal bagi mata pengguna,” paparnya.
Teknologi Upscaling Samsung: Tingkatan Berbeda
Mengingat banyak konten lokal yang belum diproduksi dalam format 4K atau 8K, Vision AI berperan sebagai jembatan teknologi. Harry Lee menyatakan dengan percaya diri bahwa teknologi upscaling Samsung berada di level yang berbeda dibandingkan kompetitor. “Upscaling adalah teknologi yang kami patenkan. Kompetitor kami mungkin mencoba melakukan hal serupa, tapi kemampuan yang kami miliki ada di level atau tingkatan yang berbeda,” tegasnya.
Menurut Lee, proses ini melibatkan manajemen kompresi dan pengiriman data yang sangat rumit, memungkinkan gambar beresolusi rendah tampak tajam dan jernih pada layar TV Samsung yang besar. Mureks mencatat bahwa inovasi ini krusial untuk pasar Indonesia yang kaya akan konten lokal dengan beragam kualitas.
Pionir AI Langsung di Perangkat
Keunggulan Samsung juga terletak pada penerapan AI langsung di dalam perangkat (on-device), sebuah langkah yang telah dipamerkan Samsung sejak ajang Samsung Mobile eXperience (MX) beberapa waktu lalu. Keunggulan tersebut kini merambah ke aplikasi rumah tangga dan TV.
Dengan Vision AI, pengalaman menonton tidak lagi statis, melainkan dinamis mengikuti lingkungan dan jenis konten. Bagi industri penyiaran di Indonesia, kehadiran Vision AI menjadi angin segar. Kreator konten tidak perlu merasa terbebani oleh batasan infrastruktur resolusi tinggi untuk memuaskan penonton mereka yang memiliki layar lebar. “Vision AI mempengaruhi semua kondisi, lingkungan, dan pengalaman menonton,” ucap Harry Lee, memungkaskan.
Dengan inovasi ini, Samsung optimistis akan terus mendominasi pasar TV premium di Indonesia sepanjang 2026.






