Tren

Presiden Prabowo Dorong Percepatan Hilirisasi Gambir, Ungkap Potensi Ekonomi Global yang Besar

PADANG – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendesak percepatan hilirisasi komoditas gambir, tanaman endemik yang dinilai memiliki potensi ekonomi global signifikan. Permintaan ini disampaikan Prabowo dalam kunjungan kerjanya di Padang pada Jumat, 9 Januari 2026, menekankan pentingnya peran aktif Kementerian Pertanian dan Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sektor perkebunan, termasuk PTPN.

Prabowo menegaskan bahwa penguatan hilirisasi dan pemanfaatan teknologi di sektor pertanian dan perkebunan merupakan strategi krusial untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional. “Pentingnya penguatan hilirisasi dan pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian dan perkebunan sebagai strategi utama meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional,” ujarnya, dikutip dari siaran pers.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden tidak hanya meninjau pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern, tetapi juga melihat langsung produk hilirisasi dari komoditas unggulan nasional. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi pemasok bahan mentah. Komoditas seperti gambir harus didorong untuk diolah di dalam negeri guna menciptakan nilai tambah yang lebih besar, membuka industri baru, dan meningkatkan pendapatan petani di sentra produksi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa gambir, meskipun kurang mendapat perhatian publik, memiliki keunggulan kuat di pasar internasional. “Kalau orang mendengar gambir, biasanya langsung teringat dengan sirih. Padahal gambir itu produk strategis. Bahkan ada negara yang sekitar 90 persen kebutuhan gambirnya dipasok dari Indonesia,” kata Jatmiko.

Menurut catatan Mureks, gambir dikenal memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi, bahkan melebihi green tea. Kandungan ini menjadikan gambir berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tinggi, seperti bahan pangan (teh), kosmetik, sabun, sampo, hingga bahan baku industri, termasuk tanin untuk tinta pemilu.

Namun, sebagian besar gambir Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah, menyebabkan nilai tambah dinikmati oleh negara lain. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi langkah penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat lokal.

Jatmiko menambahkan, langkah awal yang realistis adalah meningkatkan produktivitas gambir rakyat. Saat ini, produktivitas di tingkat petani masih rendah, sekitar 0,5 ton per hektar. Dengan riset dan metode pengolahan daun yang lebih baik, produktivitas dapat ditingkatkan menjadi 0,75 ton hingga 1 ton per hektar. “Artinya, ada potensi peningkatan 50 sampai 100%, dan dampak langsungnya itu ke pendapatan petani,” jelasnya.

Dari sisi akademis, Peneliti sekaligus Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Muhammad Makky, menegaskan keunggulan geografis gambir. “Secara geografis, Sumatra merupakan kawasan endemik tanaman gambir. Gambir tumbuh di Sumatra Barat, Sumatra Utara, sebagian Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Namun yang paling mendukung dari sisi kondisi abiotik dan ekosistemnya adalah Sumatra Barat dan Sumatra Utara,” ungkap Makky.

Keunggulan alam ini menjadikan gambir sulit dikembangkan di negara lain. Namun, Makky mengingatkan bahwa keunggulan komparatif saja tidak cukup tanpa peningkatan produktivitas dan penguatan industri hilir. “Keunggulan komparatifnya sudah ada. Tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dan memastikan hasil gambir diolah menjadi produk bernilai tinggi. Di sinilah riset dan teknologi memegang peranan penting,” tegasnya.

Kolaborasi antara BUMN, perguruan tinggi, dan petani dinilai Makky sebagai faktor kunci untuk pengembangan gambir yang berkelanjutan. Dorongan Presiden Prabowo ini diharapkan menjadi momentum penting untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar dan mengurangi ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah.

Mureks