Nasional

Phuket Terancam Krisis Lingkungan dan Sosial Akibat Lonjakan 9,25 Juta Turis hingga Agustus 2025

Phuket, destinasi wisata utama Thailand, kini menghadapi dilema serius antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan. Lonjakan jumlah wisatawan pascapandemi COVID-19 memicu fenomena overtourism, kondisi ketika kapasitas lingkungan, sosial, dan infrastruktur sebuah destinasi terlampaui oleh jumlah pengunjung.

Fenomena overtourism, yang didefinisikan sebagai kondisi jumlah wisatawan melampaui daya dukung lingkungan, sosial, dan infrastruktur, telah menurunkan kualitas hidup warga lokal serta pengalaman wisata. Di Phuket, ketergantungan pada sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan utama daerah dan lapangan kerja semakin menonjol pascapandemi COVID-19, dengan kebangkitan pariwisata global membawa lonjakan kunjungan wisatawan dalam skala masif.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Mureks mencatat bahwa data menunjukkan lonjakan signifikan. Pada periode Januari hingga Mei 2025, Phuket menerima sekitar 5,8 juta wisatawan dengan pendapatan pariwisata mencapai 220 miliar baht. Angka ini terus meroket, hingga Agustus 2025, jumlah wisatawan telah mencapai 9,25 juta orang, menghasilkan pendapatan lebih dari 355,53 miliar baht.

Meski mencerminkan keberhasilan ekonomi, lonjakan masif ini membawa dampak negatif yang kian nyata. Tekanan terhadap lingkungan pesisir, krisis pengelolaan sampah, kemacetan lalu lintas, serta peningkatan biaya hidup masyarakat lokal menjadi indikator bahwa Phuket menghadapi tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan pariwisatanya.

Dampak Overtourism: Krisis Lingkungan dan Sosial

Tingginya intensitas kunjungan wisatawan di Phuket tidak sebanding dengan kapasitas fisik dan sosial pulau tersebut. Salah satu indikator yang kerap digunakan adalah rasio wisatawan terhadap penduduk lokal. Phuket pernah dikategorikan sebagai salah satu destinasi paling over-touristed di dunia, dengan estimasi rasio sekitar 118 wisatawan per satu penduduk. Meskipun metodologi pencatatan penduduk masih diperdebatkan, fakta bahwa tekanan wisata terhadap ruang hidup masyarakat lokal sangat tinggi tidak dapat dimungkiri.

Dari sisi lingkungan, persoalan pengelolaan limbah menjadi dampak paling nyata dari overtourism. Kantor berita Reuters melaporkan, Phuket menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari, yang sebagian besar berasal dari aktivitas pariwisata, hotel, restoran, dan pembangunan infrastruktur pendukung. Volume sampah yang masif ini telah melampaui kapasitas pengelolaan limbah setempat, meningkatkan risiko pencemaran tanah, air, dan laut. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas infrastruktur lingkungan yang memadai.

Tekanan terhadap sumber daya air bersih dan kawasan pesisir juga kian meningkat. Aktivitas pariwisata massal, khususnya pada musim puncak, menyebabkan konsumsi air yang tinggi oleh hotel dan resor. Akibatnya, masyarakat lokal harus bersaing untuk mendapatkan akses air bersih, menciptakan ketegangan sosial dan memperkuat kesenjangan antara kepentingan industri pariwisata dengan kebutuhan fundamental komunitas setempat.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Secara sosial, overtourism di Phuket mendorong perubahan fungsi ruang publik dan komersialisasi kawasan hunian. Banyak wilayah yang sebelumnya digunakan sebagai ruang hidup masyarakat lokal kini beralih fungsi menjadi kawasan wisata, hotel, dan fasilitas hiburan. Proses ini memicu kenaikan harga tanah dan biaya hidup, memaksa sebagian masyarakat lokal untuk berpindah ke wilayah pinggiran.

Pariwisata memang menjadi tulang punggung perekonomian Phuket. Namun, manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak selalu terdistribusi secara adil. Sebagian besar keuntungan dinikmati oleh investor besar dan perusahaan multinasional, sementara masyarakat lokal kerap hanya memperoleh manfaat tidak langsung atau pekerjaan berupah rendah. Kondisi ini menyoroti bahwa pertumbuhan pariwisata yang tinggi tidak otomatis menjamin kesejahteraan sosial yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Mendesak: Penerapan Pariwisata Berkelanjutan

Untuk mengatasi tantangan ini, pendekatan pariwisata berkelanjutan yang dirumuskan oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO) menjadi relevan. UNWTO mendefinisikan pariwisata berkelanjutan sebagai pengelolaan yang menyeimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan, demi memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengorbankan generasi mendatang.

Pendekatan ini sangat krusial mengingat Phuket pada periode 2024–2025 tercatat sebagai salah satu destinasi wisata paling padat di dunia. Dari sekitar 35 juta wisatawan internasional yang datang ke Thailand, lebih dari sepertiganya memilih Phuket sebagai tujuan utama. Mureks mencatat, dalam lima bulan pertama tahun 2025 saja, jumlah kunjungan wisatawan ke Phuket telah mencapai sekitar 2,4 juta orang, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang semakin memperbesar tekanan terhadap daya dukung wilayah.

Dari perspektif keberlanjutan lingkungan, overtourism di Phuket jelas terlihat dari krisis pengelolaan sampah dan tekanan terhadap ekosistem pesisir. Produksi sampah harian dilaporkan mencapai 1.000–1.400 ton per hari, jauh melampaui kapasitas fasilitas pengolahan limbah yang tersedia. Sebelum lonjakan pariwisata pascapandemi, produksi sampah harian masih di bawah 800 ton, namun meningkat tajam seiring pemulihan dan ekspansi sektor pariwisata. Keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir dan insinerator menyebabkan penumpukan sampah yang berpotensi mencemari lingkungan, menandakan belum terpenuhinya pilar keberlanjutan lingkungan.

Secara sosial, lonjakan wisatawan menimbulkan tekanan serius terhadap infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, dan transportasi yang awalnya dirancang untuk populasi lokal. Dampaknya berupa kekurangan air, kemacetan, dan penurunan kualitas layanan publik, terutama pada musim puncak wisata. Kondisi ini juga memperlihatkan ketimpangan relasi kuasa antara industri pariwisata skala besar dan masyarakat lokal, di mana kebijakan pariwisata cenderung lebih menguntungkan pelaku industri dibandingkan komunitas setempat. Fenomena ini sejalan dengan temuan UNWTO yang menyebutkan bahwa overtourism kerap ditandai oleh rendahnya partisipasi masyarakat lokal serta distribusi manfaat ekonomi yang tidak merata.

Dari perspektif ekonomi, pariwisata adalah tulang punggung perekonomian Phuket, dengan pendapatan yang diperkirakan mencapai sekitar 500 miliar baht pada tahun 2025. Namun, ketergantungan pada pariwisata massal berbasis volume juga menciptakan kerentanan jangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan pariwisata berkelanjutan mendorong pergeseran menuju quality tourism, sebuah model yang menekankan peningkatan nilai ekonomi per wisatawan melalui pengalaman yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat lokal.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Fenomena overtourism di Phuket menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi pariwisata Thailand belum diiringi oleh tata kelola yang berkelanjutan. Pemerintah Thailand masih menempatkan pertumbuhan pariwisata berbasis volume sebagai prioritas utama, sementara pengendalian daya dukung lingkungan, kesiapan infrastruktur, dan perlindungan kesejahteraan masyarakat lokal cenderung terabaikan.

Kondisi ini tercermin dari krisis pengelolaan sampah, tekanan terhadap sumber daya air, serta meningkatnya ketimpangan antara kepentingan industri pariwisata dan komunitas lokal. Oleh karena itu, pariwisata berkelanjutan harus dijalankan secara substantif, bukan sekadar normatif.

Pemerintah Thailand perlu menerapkan pembatasan jumlah wisatawan berbasis daya dukung, memperkuat investasi pada infrastruktur lingkungan, menggeser orientasi kebijakan dari pariwisata massal menuju quality tourism, serta memastikan keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam tata kelola pariwisata. Tanpa perubahan kebijakan yang tegas, pariwisata Phuket berisiko mengalami degradasi lingkungan dan krisis sosial yang mengancam keberlanjutan jangka panjang.

Mureks