Permintaan tembaga di China, pasar terbesar dunia, dilaporkan anjlok drastis menyusul lonjakan harga logam industri tersebut yang mencapai rekor tertinggi. Harga tembaga di London Metal Exchange (LME) bahkan menembus angka US$13.000 per ton untuk pertama kalinya pekan ini, memperpanjang reli hampir 50% selama setahun terakhir.
Fenomena ini mengejutkan banyak pihak, mengingat China adalah konsumen utama tembaga global. Sebagian besar pengguna industri di negara tersebut secara signifikan mengurangi pembelian, menunjukkan adanya ‘penolakan harga’ yang kuat. Menurut pantauan Mureks, kondisi ini menjadi indikator penting dalam dinamika pasar komoditas global.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Kostas Bintas, kepala logam di perusahaan perdagangan raksasa Mercuria Energy Group Ltd., mengungkapkan kekagetannya. “Sungguh mengejutkan betapa besar penolakan harga yang terjadi. Orang China memang tidak membeli tembaga,” kata Bintas dalam sebuah wawancara.
Meskipun pembeli di dunia nyata biasanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan harga yang tajam, tingkat pengurangan pembelian oleh pengguna industri di China kali ini sangat mencolok. Kombinasi faktor-faktor bullish diperkirakan masih dapat mendorong harga tembaga lebih tinggi lagi dalam jangka pendek, namun hal ini berpotensi memperparah kelesuan permintaan.






