Nasional

Pergeseran Tradisi dan Intrik Kekuasaan di Balik Ritual Jiao Bei Kelenteng Han Tan Kong

Kelenteng Han Tan Kong di Cileungsi, Kabupaten Bogor, telah lama dikenal sebagai salah satu pusat keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa setempat. Berdiri lebih dari dua abad lalu, berdasarkan catatan dan tradisi lisan, kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simpul sosial dan pengelolaan komunitas.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dinamika internal kelenteng mengalami perubahan signifikan, terutama terkait mekanisme pemilihan ketua. Jika sebelumnya pemilihan ketua dilakukan secara langsung dengan partisipasi warga, kini sistem tersebut bergeser ke mekanisme adat melalui ritual jiao bei.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Ritual Jiao Bei dan Legitimasi Kepemimpinan

Ritual jiao bei adalah praktik meminta petunjuk ilahi dengan melempar dua keping kayu berbentuk bulan sabit. Pergeseran ini menandai perubahan penting dalam sumber legitimasi kepemimpinan, dari yang sebelumnya bertumpu pada suara komunitas, kini ditentukan melalui tafsir atas hasil ritual tersebut.

Dalam praktiknya, proses jiao bei tidak berdiri sendiri. Terdapat tahapan pendaftaran bagi warga yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua, yang disertai kewajiban membayar sejumlah biaya. Biaya ini, menurut pihak pengelola, merupakan bagian dari kebutuhan operasional dan ritual. Akan tetapi, sebagian warga menilai biaya tersebut cukup tinggi dan mempertanyakan transparansi serta keadilan dalam prosesnya.

Respons warga pun beragam. Ada yang menerima mekanisme ini sebagai bagian dari adat dan tanggung jawab calon pemimpin, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan kejelasan alokasi dana tersebut. Catatan Mureks menunjukkan, perdebatan seputar biaya ini menjadi salah satu pemicu ketegangan di internal komunitas.

Jabatan Ketua: Antara Amanah dan Kepentingan Material

Di balik kehormatan simbolik, jabatan ketua kelenteng dinilai memiliki peran strategis. Ketua memiliki pengaruh besar dalam pengelolaan kegiatan keagamaan, relasi dengan donatur, hingga pengambilan keputusan penting terkait aset dan arah kebijakan kelenteng.

Kondisi inilah yang membuat posisi ketua tidak hanya dipandang sebagai amanah spiritual, tetapi juga sebagai jabatan yang memiliki nilai sosial dan material. Akses terhadap jaringan, pengelolaan dana, serta legitimasi simbolik menjadikan posisi ini memiliki daya tarik tersendiri, sehingga kerap memicu konflik antarwarga, baik secara terbuka maupun terselubung.

Film Dokumenter Mengungkap Dinamika Kekuasaan

Dinamika kompleks antara tradisi, iman, dan kekuasaan ini terekam dalam sebuah film dokumenter berjudul “Jiao Bei: Antara Iman, Kekuasaan, dan Konflik”. Film ini dibuat oleh Siraz Radenmas Rivai, seorang mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sebagaimana diungkapkan Siraz Radenmas Rivai, “Tulisan ini membahas Film dokumenter yang saya buat mengulas dinamika ritual jiao bei di Kelenteng Han Tan Kong, Cileungsi, serta konflik kekuasaan yang muncul di balik kepemimpinan dan tradisi adat.”

Film ini mencoba merekam dinamika tersebut tanpa bermaksud menghakimi, melainkan mengajak publik untuk melihat bagaimana tradisi, ketika bertemu dengan kepentingan manusia, dapat memunculkan ketegangan sosial. Bagi pembuat film, kisah ini menjadi refleksi bahwa hukum dan keadilan tidak pernah sesederhana hitam dan putih, melainkan selalu berkelindan dengan budaya, nilai, dan kekuasaan yang hidup di tengah masyarakat.

Pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga tradisi, bukan hanya soal melestarikan ritual, tetapi juga memastikan bahwa kekuasaan yang lahir dari tradisi tersebut tidak disalahgunakan demi kepentingan pribadi.

Mureks