Teknologi

Pengalaman Pahit Sensor Jantung: Pengguna Garmin Kembali Setelah Setahun Mencoba Jam Tangan Polar

Setelah setahun mencoba peruntungan dengan jam tangan lari Polar, seorang pengguna setia Garmin akhirnya memutuskan untuk kembali ke merek lamanya. Keputusan ini diambil setelah menghadapi kendala tak terduga terkait kompatibilitas sensor detak jantung yang krusial bagi rutinitas latihannya.

Cat Ellis, seorang jurnalis teknologi yang pernah menjabat sebagai editor kebugaran di TechRadar, memiliki sejarah panjang dengan jam tangan olahraga Garmin. Ia memulai dengan Garmin Forerunner 35 yang fungsional, kemudian beralih ke Garmin Fenix 7S. Namun, kecintaannya pada merek tersebut sempat goyah.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Alasan Awal Beralih dari Garmin

Ellis mengungkapkan, keputusannya untuk beralih dari Garmin dipicu oleh beberapa faktor. Kekhawatiran akan pemadaman server yang berkepanjangan menjadi salah satu pemicu. Selain itu, ia merasa kecewa dengan peluncuran Garmin Connect+ yang secara diam-diam menempatkan fitur notifikasi teks LiveTrack untuk pelari di balik paywall, sementara fitur serupa untuk pengendara sepeda tetap gratis. “Saya merasa jenuh dengan peluncuran Garmin Connect+ (yang secara diam-diam menempatkan notifikasi teks LiveTrack untuk pelari di balik paywall – tetapi tidak untuk pengendara sepeda),” ujarnya.

Dengan latar belakang sebagai editor kebugaran, Ellis sudah tidak asing dengan antarmuka dan aplikasi Polar Flow. Proses transisi ke jam tangan Polar berjalan mulus pada awalnya, memberikan harapan akan pengalaman baru yang lebih baik.

Munculnya Masalah Kompatibilitas Sensor Detak Jantung

Namun, masalah muncul ketika Ellis mencoba menggunakan monitor detak jantung (HRM) tali dada miliknya. Ia menjelaskan bahwa HRM tali dada sangat berguna untuk latihan interval di sepeda statis, di mana monitor berbasis pergelangan tangan cenderung lambat merespons dan dapat terpengaruh oleh genggaman tangan pada stang. Mendapatkan pembacaan langsung dari tali dada ke layar sepeda melalui ANT+ dinilai lebih cepat, nyaman, dan akurat.

Kendala utama terletak pada tali HRM tradisional. Bagi wanita yang mengenakan bra olahraga, tali tersebut harus diposisikan di bawah pita bra, seringkali terasa canggung di sekitar tulang rusuk dan berisiko melorot. Menyadari masalah ini, Garmin beberapa tahun lalu merilis HRM-Fit, sebuah monitor detak jantung inovatif yang dapat dipasang langsung ke tali bra olahraga. “Ini adalah ide brilian, dan saya belum melihatnya ditiru oleh merek teknologi kebugaran besar lainnya hingga saat ini,” kata Ellis.

Meskipun ada alternatif seperti HRM yang dipasang di lengan (misalnya Polar Verity Sense), Ellis mencatat bahwa perangkat tersebut menggunakan teknologi serupa dengan monitor jam tangan, sehingga memiliki keterbatasan yang sama dalam responsivitas.

Uji Coba Gagal dan Penemuan Inkompatibilitas

Dengan harapan tinggi, Ellis menambahkan HRM-Fit ke daftar keinginan Natalnya. Setelah mendapatkannya, ia segera menghubungkan sensor tersebut ke jam tangan Polar miliknya, yang mendukung sensor via ANT+ dan Bluetooth. Pada Hari Tinju, ia bersiap untuk lari perdana dengan kombinasi perangkat baru ini.

Namun, saat memulai lari, tidak ada data detak jantung, kecepatan, maupun jarak yang muncul di jam tangannya. Setelah mencoba ulang dan memastikan koneksi GPS, hasilnya tetap nihil. “Tidak hanya saya tidak bisa melihat detak jantung di jam tangan saya, tidak ada kecepatan atau jarak yang terlihat juga,” kenangnya.

Setelah kembali ke rumah, aplikasi Polar Flow menunjukkan bahwa rute larinya memang terlacak dan bahkan muncul di peta saat disinkronkan dengan Strava, namun tanpa data kecepatan atau jarak. Penelusuran daring cepat mengungkapkan akar masalahnya. “Ternyata beberapa monitor detak jantung Garmin, termasuk namun tidak terbatas pada HRM-Fit, salah mengidentifikasi diri mereka sebagai foot-pods ketika terhubung ke jam tangan Polar,” tulis Ellis, mengutip temuan dari forum daring. Ini berarti jam tangan Polar mengharapkan data seperti irama dan panjang langkah, bukan detak jantung, yang mengakibatkan kekacauan data. Tidak ada solusi untuk masalah inkompatibilitas ini.

Keputusan Kembali ke Garmin

Dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan HRM-Fit atau jam tangan Polar, Ellis memutuskan bahwa kenyamanan Garmin HRM-Fit lebih berharga. “Saya memutuskan bahwa saya lebih menghargai kenyamanan Garmin HRM-Fit daripada keinginan saya (mungkin agak kekanak-kanakan) untuk ‘melawan’ Garmin karena mengeluarkan tingkatan berbayar untuk aplikasi yang sebelumnya gratis,” jelasnya.

Setelah melakukan riset ekstensif, Ellis memilih Garmin Lily 2 Active. Jam tangan ini merupakan perangkat olahraga terkecil Garmin dengan GPS internal, sebuah fitur yang ia sukai karena tidak perlu bergantung pada GPS ponsel. Berbeda dengan Garmin Lily 2 standar, versi Active ini mendukung aksesori melalui ANT+ dan Bluetooth.

Fitur Lily 2 Active yang lebih ramping, tanpa peta atau layar berwarna, justru sesuai dengan kebutuhannya. “Selama itu memungkinkan saya menyinkronkan rencana dari TrainingPeaks dan mengingatkan saya ketika saya berada di luar rentang detak jantung yang sesuai, semuanya baik-baik saja,” katanya. Ukurannya yang mungil juga membuatnya nyaman dipakai saat tidur, memungkinkan pelacakan tidur tanpa merasa terbebani. Menurut pantauan Mureks, kenyamanan dan fungsionalitas esensial seringkali menjadi prioritas utama bagi pengguna yang mencari perangkat kebugaran yang praktis.

Pelajaran Penting

Pengalaman Ellis ini memberikan pelajaran penting: selalu pastikan kompatibilitas antara sensor atau aksesori baru dengan perangkat utama Anda. Meskipun spesifikasi teknis mungkin menunjukkan kompatibilitas, riset mendalam dengan mencari nama kedua produk secara bersamaan sangat disarankan untuk menghindari “pelajaran mahal” serupa.

Mureks