Tren

Penangkapan Nicolas Maduro Picu Euforia Diaspora Venezuela, Harapan Pulang ke Tanah Air Menggema

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat pada Selasa, 06 Januari 2026, memicu gelombang euforia di kalangan diaspora Venezuela di berbagai belahan dunia. Peristiwa ini, yang juga menimbulkan perdebatan sengit di kancah hukum internasional dan geopolitik, justru menjadi momen emosional yang penuh harapan bagi jutaan warga Venezuela yang telah lama hidup jauh dari tanah kelahiran mereka.

Di kota-kota besar dunia, ribuan warga Venezuela turun ke jalan. Mereka mengibarkan bendera nasional, menangis haru, berpelukan, dan merayakan apa yang mereka sebut sebagai “hari pembebasan” yang telah lama dinanti. Salah satu pusat perayaan terbesar terlihat di Doral, Florida, yang dikenal sebagai “Doralzuela” karena komunitas Venezuela yang besar di sana. Sejak dini hari, ratusan orang memadati jalanan, balkon, hingga area publik dengan dominasi warna kuning, biru, dan merah.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Pemandangan serupa juga terpantau di Peru, Ekuador, Panama, Kolombia, Meksiko, dan Spanyol. Diaspora Venezuela di negara-negara tersebut mengibarkan bendera dari kendaraan, jendela rumah, hingga alun-alun kota. Tangis haru bercampur tawa pecah saat botol sampanye dibuka, menandai momen yang bagi banyak orang terasa hampir mustahil beberapa tahun lalu.

Krisis Berkepanjangan Pemicu Migrasi Massal

Para peraya datang dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari profesional, mahasiswa, pekerja kasar, hingga keluarga yang pernah melarikan diri dari kelaparan dan kemiskinan ekstrem. Namun, satu emosi menyatukan mereka: rasa lega. Penangkapan Maduro dipandang sebagai simbol runtuhnya kekuasaan yang mereka anggap bertanggung jawab atas kehancuran Venezuela selama lebih dari satu dekade.

Mureks mencatat bahwa sejak 2014, krisis berkepanjangan telah memaksa sekitar 7,7 juta warga Venezuela meninggalkan negara mereka, jumlah yang hampir mencapai seperlima dari total populasi. Di bawah pemerintahan Maduro, ekonomi Venezuela menyusut drastis, inflasi melonjak ke tingkat yang nyaris tak masuk akal, dan produksi minyak, yang merupakan urat nadi negara, jatuh ke titik terendah dalam sejarah modern, meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Dampak krisis terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Jutaan keluarga menghadapi kelangkaan pangan, antrean panjang untuk bahan pokok, dan kemiskinan ekstrem. Bentrokan demi makanan menjadi pemandangan yang lazim, mendorong gelombang migrasi terbesar dalam sejarah Amerika Latin.

Selain itu, rezim Maduro juga dituding melakukan represi politik sistematis. Demonstrasi dibubarkan dengan kekerasan, ratusan orang tewas, ribuan ditahan, dan banyak yang dilaporkan disiksa. Tekanan terhadap jurnalis, aktivis, dan oposisi membuat ruang demokrasi semakin menyempit. Dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan bahkan mendorong penyelidikan internasional.

Kontroversi semakin memuncak setelah pemilu 2024, ketika hasil tidak resmi menunjukkan kemenangan telak oposisi, namun Maduro tetap dilantik untuk masa jabatan ketiga. Penolakan audit independen memperdalam luka dan kekecewaan rakyat.

Ironisnya, saat diaspora merayakan di luar negeri, suasana di Venezuela sendiri justru sunyi dan penuh ketidakpastian. Jalanan Caracas lengang, toko-toko banyak tutup, dan warga bergerak dengan rasa takut yang masih membekas. Struktur kekuasaan lama dinilai belum sepenuhnya runtuh.

Meski begitu, bagi diaspora Venezuela, penangkapan Maduro menjadi titik balik simbolis. Peristiwa ini menyalakan kembali harapan untuk pulang, untuk membangun kembali, dan untuk melihat Venezuela bangkit sebagai negara yang aman, makmur, dan demokratis.

Mureks