Kondisi Firman Nugraha, pemain Perseta 1970 yang menjadi korban tendangan brutal dalam laga Liga 4 PSSI Jawa Timur, dilaporkan telah membaik. Insiden yang melibatkan Muhammad Hilmi dari PS Putra Jaya Sumurwaru itu meninggalkan jejak pul sepatu yang membekas jelas di dada Firman.
Pelatih Perseta 1970, Medi Redondo, memastikan bahwa Firman Nugraha kini telah pulih setelah mendapatkan penanganan medis. “Alhamdulillah aman, sudah sehat kembali,” ujar Medi, Selasa (06/1/2026).
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Firman sempat dirawat di ambulans yang siaga di pinggir lapangan Stadion Gelora Bangkalan, namun tidak perlu dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya stabil. Insiden tersebut terjadi pada Senin (5/1/2026) dalam pertandingan babak 32 besar antara PS Putra Jaya Kabupaten Pasuruan dan Perseta 1970 Tulungagung.
Insiden Tendangan Brutal yang Viral
Momen tendangan yang viral dalam siaran langsung pertandingan menunjukkan Firman Nugraha sedang berusaha merebut bola ketika tiba-tiba terkena tendangan keras di bagian dada. Akibatnya, ia langsung terjatuh dan harus ditandu keluar lapangan untuk mendapatkan penanganan medis.
Wasit yang memimpin pertandingan bereaksi tegas dengan mengeluarkan kartu merah langsung kepada Muhammad Hilmi Gimnastiar atas aksi tak terpuji tersebut. Insiden ini memicu reaksi keras dari tim Perseta 1970, dengan sejumlah pemain sempat mencoba mengejar Hilmi sebelum berhasil dilerai oleh rekan setim mereka.
Mureks mencatat bahwa insiden ini tidak hanya meninggalkan trauma, tetapi juga bekas fisik yang jelas. Foto-foto yang beredar luas menunjukkan jejak pul sepatu yang membekas di dada Firman, menjadi bukti visual betapa kerasnya kontak yang dialaminya. Aksi tersebut sontak menuai kecaman luas di media sosial dan dunia sepak bola amatir Indonesia.
PS Putra Jaya Pecat Pelaku
Menanggapi insiden tersebut, PS Putra Jaya Kabupaten Pasuruan tidak tinggal diam. Klub tersebut langsung mengambil tindakan tegas dengan memecat Muhammad Hilmi. Keputusan pemecatan diumumkan melalui unggahan resmi klub, yang menegaskan bahwa tindakan pemain tersebut bertentangan dengan prinsip fair play dan etika pertandingan sepak bola.
Pemecatan Hilmi diharapkan menjadi pelajaran bagi seluruh pemain untuk menjunjung tinggi sportivitas dan menghindari kekerasan di lapangan hijau.






