Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tengah mempertimbangkan perubahan signifikan pada sistem penilaian pertandingan, dari 21 poin menjadi 15 poin dalam format best of three. Rencana ini memicu beragam reaksi dari para pebulu tangkis top dunia, termasuk Anders Antonsen dari Denmark dan Jonatan Christie dari Indonesia, yang menyuarakan pandangan berbeda.
Anders Antonsen, pebulu tangkis tunggal putra peringkat ketiga dunia, secara terbuka menyatakan skeptisismenya terhadap sistem 15 poin. Menurutnya, perubahan ini justru akan menguntungkan pemain yang memiliki keunggulan fisik lebih rendah.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
“Saya sebenarnya tidak menyukai sistem penilaian 15 poin karena sistem ini lebih menguntungkan pemain yang secara fisik kurang unggul, karena sistemnya lebih singkat,” kata Antonsen. Ia menambahkan, sebagai salah satu pemain terbaik dunia, ia cenderung menginginkan sistem yang sudah ada tetap dipertahankan. “Ini jelas menguntungkan tim yang kurang diunggulkan. Akan ada lebih banyak pertandingan yang seimbang dan lebih banyak kejutan,” imbuhnya.
Selain sistem penilaian, BWF juga sedang menguji coba aturan jeda 25 detik antar reli, yang akan diterapkan di Indonesia Masters pada 20-25 Januari 2026. Antonsen juga menyuarakan kekhawatiran bahwa jeda yang dipersingkat tersebut mungkin tidak cukup untuk pemulihan fisik dalam pertandingan yang intens.
Di sisi lain, pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, memilih untuk tidak terburu-buru menilai. Pemain peringkat keempat dunia ini mengaku pernah mencoba sistem penilaian eksperimental 11 poin dalam format best of five set yang diujicobakan pada tahun 2014 selama empat bulan.
“Ini adalah sistem baru dan sangat sulit untuk mengatakan saat ini apakah ini merupakan keuntungan, tetapi akan menarik untuk melihat bagaimana hasilnya,” ujar Jonatan. Ia menekankan perlunya mencoba sistem baru tersebut dalam turnamen resmi sebelum dapat menarik kesimpulan. “Saya punya sistem penilaian lain yang lebih singkat, yaitu 11 poin, tetapi itu dimainkan selama lima pertandingan. Keduanya benar-benar berbeda. Harus mulai bermain di turnamen terlebih dahulu untuk melihat apakah itu bermanfaat bagi kami,” jelasnya.
Berbeda dengan Antonsen, pemain ganda putra Malaysia, Tan Wee Kiong, melihat potensi keuntungan dari sistem 15 poin, terutama bagi para pemain veteran. Wee Kiong, peraih medali perak Olimpiade 2016 yang kini berusia 37 tahun, bersama pasangannya Nur Mohd Azriyn Ayub (34 tahun), merasa sistem yang lebih singkat akan lebih ringan secara fisik.
“Saya yakin 15 poin itu bisa memberi kami keuntungan dan mungkin juga membantu kami memperpanjang karier,” kata Wee Kiong. Ia menambahkan, “Secara fisik, saya yakin ini akan lebih ringan dan kami juga bisa bersaing dengan pasangan yang jauh lebih muda.” Namun, ia juga mengakui adanya sisi negatif, yaitu permainan akan menjadi lebih cepat dan intens.
Catatan Mureks menunjukkan, argumen Wee Kiong tentang potensi keuntungan bagi veteran mungkin memiliki dasar. Dalam sebuah pertandingan, Wee Kiong dan Azriyn pernah unggul 11-5 di game pertama, namun akhirnya kalah 21-15, 21-16 dari pasangan Korea Selatan peringkat satu dunia, Kim Won Ho-Seo Seung Jae. Sistem 15 poin bisa saja mengubah hasil pertandingan tersebut.
Rencana pengenalan sistem 15 poin ini akan dibahas dan diputuskan dalam Rapat Umum Tahunan (AGM) BWF pada 25 April 2026 di Horsens, Denmark, bertepatan dengan Final Piala Thomas dan Uber (24 April-3 Mei). BWF juga diperkirakan akan memutuskan apakah sistem ini akan dimulai akhir tahun ini atau baru diperkenalkan kembali pada tahun 2027. Tujuan utama perubahan ini adalah untuk mengurangi durasi pertandingan, menjaga kesehatan fisik pemain, dan meminimalkan risiko cedera.






